MTQ MEDAN 2026: Rp 1,6 MILIAR UANG RAKYAT AMBLAS KE LUMPUR, ACARA RELIGIUS TERANCAM KACAU BALAU!

MEDAN — Publik Kota Medan dibuat mengelus dada. Di balik kemegahan rencana Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-59 tingkat Kota Medan yang sakral, tersimpan aroma ketidaksiapan yang sangat menyengat. Gelontoran dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) bernilai fantastis, nyaris menyentuh angka Rp 1,6 Miliar, kini dipertanyakan setelah fakta memalukan di lapangan terbongkar ke publik.

Bagaimana tidak? Acara yang dijadwalkan berlangsung khidmat pada 11 hingga 18 April 2026 di kawasan Jalan Gatot Subroto Km 5, Kecamatan Medan Sunggal ini justru disambut dengan kondisi lokasi yang sangat tidak layak. Alih-alih menyajikan fasilitas nomor satu dari pemenang tender PT Angsamas Ratu Tama, lokasi acara justru masih compang-camping dan dipenuhi lumpur hidup!

Bacaan Lainnya

Lumpur Menghadang Kafilah, Sound System Terancam ‘Gubrak’

Kondisi memprihatinkan ini terkuak setelah Wali Kota Medan, Rico Waas, melakukan inspeksi mendadak langsung ke lokasi. Sang Wali Kota tidak dapat menyembunyikan kekecewaannya saat melihat pengerjaan akses jalan yang belum rampung sempurna dan genangan lumpur yang siap mengotori pakaian suci para kafilah serta pengunjung.

“Ada beberapa titik juga yang masih berlumpur. Kemudian juga soal sound system. Saya minta agar sound system yang digunakan benar-benar bagus!” tegas Rico Waas dengan nada penuh peringatan.

Publik pun kini menuntut pertanggungjawaban. Bagaimana mungkin dengan anggaran raksasa yang dikelola oleh pihak Kecamatan Medan Sunggal sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), masalah mendasar seperti jalan becek dan kualitas pengeras suara masih menjadi drama menjelang hari pelaksanaan?

Bayang-bayang Penjurian ‘Keluarga’

Tidak hanya masalah fisik fasilitas yang babak belur, aroma ketidakpercayaan juga mulai mengarah pada integritas penilaian. Hal ini terbaca ketika Wali Kota Medan sampai harus memberikan wanti-wanti keras saat melantik Dewan Pengawas dan Dewan Hakim.

Wali Kota secara terbuka meminta para juri untuk membuang jauh-jauh “kedekatan sosial” dalam memberikan nilai kepada peserta. Peringatan ini memicu spekulasi di tengah masyarakat: Apakah selama ini aroma nepotisme dan titipan juara kerap menggerogoti acara suci ini?

Akankah perhelatan megah yang memakan uang rakyat miliaran rupiah ini berakhir menjadi panggung penuh lumpur dan kontroversi? Masyarakat Kota Medan kini hanya bisa menonton dan berharap agar syiar Islam ini tidak dirusak oleh tangan-tangan tidak profesional.

Catatan Redaksi:

Berita ini ditulis berdasarkan fakta lapangan mengenai peninjauan Wali Kota Medan terhadap proyek fisik panggung dan jalan berlumpur serta rincian pagu anggaran yang tertera pada sistem LPSE Pemko Medan untuk pengerjaan EO MTQ Medan ke-59 tahun 2026.

Pos terkait