Ketua DPRD Bondowoso, Minta Kepolisian Menyidik 22 Dokter Spesialis Yang Mengundurkan Diri

  • Whatsapp

Bondowoso, BN-

Ketua DPRD Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Ahmad Dafir meminta kepada polisi agar melakukan penyidikan terhadap 22 dokter spesialis RSUD Koesnadi yang mengundurkan diri. Hal itu dikarenakan para dokter dalam menempuh spesialis dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bondowoso.

Bacaan Lainnya

“Kalau mereka benar-benar mengundurkan diri, saya akan minta kejaksaan dan kepolisian untuk menyidik para dokter tersebut karena sebagian besar dari mereka dalam menempuh pendidikan spesialisnya dibiayai oleh APBD,” kata Ahmad Dafir kepada sejumlah wartawan di Bondowoso, Kamis (10/11/2016)

Ia mengemukakan, dari 22 dokter ada 11 dokter yang menempuh pendidikan spesialis menggunakan dana APBD. Mereka juga menandatangani kontrak kerja dengan pemerintah daerah minimal 10 tahun mengabdi di RSUD Koesnadi. Jika perjanjian kontrak tersebut dilanggar, maka artinya para dokter tersebut melanggar perjanjian.

“Kalau para dokter yang terikat kontrak tersebut serius mundur, mereka bisa dijerat dengan pasal korupsi, administrasi ataupun pengingkaran terhadap perjanjian kerja,” ujarnya

Orang nomor satu di kalangan dewan ini juga akan meminta pemerintah daerah mengundang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) agar melakukan audit forensik untuk mengetahui secara jelas pengelolaan anggaran di rumah sakit milik pemerintah daerah ini, karena menurut Ahmad Dafir, pengunduran diri para dokter spesialis dikarenakan adanya kecurigaan para dokter ada penyimpangan terhadap pengelolaan managemen RSUD.

“Saya juga akan meminta Bupati agar mendatangkan BPK untuk mengaudit penggunaan anggaran di RSUD, karena pengunduran diri para dokter ini bermula atas dasar kecurigaan adanya penyimpangan yang dilakukan managemen,” tegasnya.

Pantauan BONGKAR NEWS di lapangan, ke-22 dokter spesialis RSUD Koesnadi telah menyerahkan surat pengunduran diri mereka kepada pihak rumah sakit. Mereka juga melayangkan surat pemberitahuan akan melakukan aksi keprihatinan atas gagalnya perundingan antara forum dokter spesialis dengan manajemen RSUD yang akan digelar pada 17 November 2016. (TK)

Pos terkait