JAKARTA | BONGKARNEWS – Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) secara resmi meningkatkan status kewaspadaan nasional menyusul laporan lonjakan temuan virus Hanta di tanah air. Hingga Selasa (12/5/2026), otoritas kesehatan mencatat sedikitnya 256 kasus suspek yang kini berada dalam pengawasan ketat.
Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes, Andi Saguni, mengungkapkan bahwa dari total suspek tersebut, sebanyak 23 kasus telah terkonfirmasi positif Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
“Kami terus memantau pergerakan kasus ini. Meskipun tipe virus yang lebih mematikan seperti HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome) belum terdeteksi masuk ke Indonesia, namun kewaspadaan di pintu masuk negara dan kebersihan pemukiman warga tidak boleh kendor,” tegas Andi Saguni kepada awak media di Jakarta.
Mengenal Ancaman Virus HantaVirus Hanta bukanlah ancaman baru di dunia, namun kemunculannya kembali di tahun 2026 ini menjadi perhatian serius. Penyakit ini merupakan infeksi virus yang ditularkan melalui hewan pengerat (tikus). Manusia dapat terinfeksi melalui kontak langsung dengan urine, kotoran, maupun air liur tikus yang terkontaminasi, atau melalui udara yang mengandung partikel virus tersebut.Gejala awal seringkali menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi, sakit kepala hebat, dan nyeri otot. Namun, jika berkembang menjadi HFRS, pasien dapat mengalami kerusakan ginjal yang signifikan serta perdarahan internal.
Instruksi bagi Masyarakat
Bongkarnews mencatat beberapa langkah penting yang ditekankan Kemenkes untuk memutus rantai penularan:
Sanitasi Lingkungan: Pastikan tidak ada tumpukan barang yang menjadi sarang tikus di dalam maupun di sekitar rumah.
Keamanan Pangan:
Selalu tutup makanan dan minuman dengan rapat agar tidak terkontaminasi kotoran atau urine tikus.
Penggunaan APD:
Saat membersihkan gudang atau area yang dicurigai sebagai sarang tikus, gunakan masker dan sarung tangan.
Masyarakat diminta tidak panik namun tetap proaktif. Segera datangi fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala demam tinggi pasca berinteraksi dengan area yang banyak ditemukan populasi tikus. Hingga saat ini, Kemenkes memastikan bahwa ketersediaan logistik medis dan laboratorium deteksi di pusat maupun daerah masih dalam kondisi mencukupi.
(Red)





