Disebut Arogan, Camat Silima Pungga-Pungga Horas Pardede SE Sampaikan Klarifikasi

  • Whatsapp

DAIRI | bongkarnews.com – Camat Silima Pungga-Pungga, Horas Pardede S.E sangat menyayangkan pemberitaan yang menyatakan dirinya bertindak arogan, akibat aksi penutupan akses jalan yang dilakukan warganya terhadap jalan yang akan dilalui oleh rombongan pihak Muspika beserta Humas PT. Dairi Prima Mineral (DPM).

Akibat pemberitaan tersebut, Horas Pardede pun angkat bicara. Ditemui, Selasa (6/7/2021) di ruang kerjanya, Horas Pardede menyatakan dirinya saat itu memang menegur keras kepada warga yang melakukan penutupan akses jalan secara sepihak dan main hakim sendiri, tapi saya akan selalu konsisten dengan beban dan tanggung jawab dari tugas-tugas saya sebagai Camat Silima Pungga-Pungga.

Bacaan Lainnya

“Saat itu memang saya tegur keras karena saya tak ingin masyarakat main hakim sendiri dengan menutup akses jalan perusahaan. Kita tahu negara kita adalah negara hukum, bila ada masalah, disampaikanlah berjenjang baik melalui kadus, kades, camat atau pihak berwenang lainnya”, ungkap Pardede.

Tambahnya, tiga hari yang lalu ada warga saya yang ditangkap polisi karena main hakim sendiri, saya tak mau itu terjadi pada keluarga Sihaloho, dan sekaligus juga menjadi teguran buat masyarakat yang lain agar jangan main hakim sendiri. Ketika tindakan main hakim sendiri kita beri peluang maka hukum tidak akan bisa tegak dan akan terjadi nantinya hukum rimba, jelasnya.

Lanjut Horas, sebagai catatan tidak ada pengaduan masyarakat yang tidak saya tindak lanjuti apabila keluhannya disampaikan kepada saya, katanya, yang juga turut disaksikan oleh keluarga Japin Sihaloho, Pemangku Hak Ulayat (PHU) marga Cibro Tuntung Batu, Sahbin Cibro, tokoh masyarakat Pakpak Abdul Angkat, pihak PT. DPM dan aparat kecamatan lainnya.

Horas Pardede melanjutkan, soal video yang sempat viral yang menampilkan dirinya seolah arogan, Ia menampiknya, “Saya kira itu tidak tepat, kami sudah bertemu dan bersepakat. Kejadian itu tidak jauh beda dengan orang tua pada anaknya untuk mengingatkan. Soal demo meminta saya dicopot, itu hak mereka, namun keputusan ada ditangan bupati. Kepada mereka yang kita duga menunggangi atau memanfaatkan situasi, dengan tindakan pencemaran nama baik saya ataupun tindakan tidak menyenangkan yang dilakukan mahasiswa yang demo terhadap saya, saya tidak perlu ambil jalur hukum, tambahnya.

“Saya yakin ada kepentingan politik didalamnya, biarlah Tuhan yang menghukumnya, buat orang-orang yang sengaja berniat menghancurkan reputasi seseorang atau usaha memutus pekerjaan orang lain terlebih lebih ketika orang tersebut tidak bersalah, Tuhan maha melihat dan mengetahui”, ucapnya.

“Saya selaku camat dengan keluarga Haloho sekarang baik-baik saja, karena video itu dipenggal tidak ditampilkan bahwa ada solusi disepakati antara muspika dan keluarga Sihaloho”, kata Horas tegas.

Sementara itu ditempat terpisah setelah pertemuan, masyarakat Desa Longkotan yakni keluarga Japin Sihaloho, menyatakan tidak ada niat untuk memviralkan kejadian ini termasuk meminta demo untuk mencopot camat.

“Soal kemarahan camat, saya paham, saat itu beliau marah, karena memang saya juga tersulut emosi dan ikut marah. Sebenarnya kami menutup akses jalan agar ada respon dari PT. DPM sebab sebelumnya kami sudah mengadukan keluhan kami kepada pihak yang berwenang seperti kades tapi tidak direspon, mungkin dengan menutup jalan maka PT. DPM akan memberi respon dengan harapan perusahaan akan mendatangi kami untuk menyelesaikan masalah ini, dan demonstrasi itu terjadi begitu saja. Kami hanya ingin perusahaan paham apa keluhan warga lingkar tambang, itu saja”, jelas istri Japin Sihaloho boru Karosekali.

Boru Karosekali menyebut setelah kejadian itu, pihak keluarganya telah mengadakan pertemuan dengan PT. DPM dan Muspika, PHU dan kami membuat kesepakatan dengan meminta PT. DPM untuk menyelesaikan masalah ini seminggu setelah pertemuan.

Masih ditempat yang sama, Pemangku Hak Ulayat (PHU) marga Cibro Tuntung Batu, Sahbin Cibro bersama tokoh masyarakat Abdul Angkat mengharapkan ada solusi terbaik seminggu setelah pertemuan ini.

“Kami menyayangkan kejadian ini, kami hanya ingin PT. DPM memahami apa maksud dan tujuan keluarga Haloho menutup jalan tersebut, itu semata-mata hanya untuk mendapatkan respon perusahaan. Jadi saat itu, camat menghimbau dan meminta kami menyampaikan keluhan, agar dicari solusi. Kami hanya berharap ada solusi, semua pihak dapat mendengar uneg-uneg warga untuk direspon dan disikapi oleh perusahaan”, kata Cibro.

Sebelumnya dikabarkan, warga marah kepada pihak PT. DPM karena tidak melakukan sosialisasi terkait kegiatan pengerjaan bendungan limbah.

(BD.007)

Pos terkait