Santriwati Pesantren Hamka Studi Komparatif Dan Riset Ke Jakarta

PADANGPARIAMAN— BN.

Sejak tanggal 14 sampai 18 Januari 2017, 25 orang santriwati Pesantren Modern Terpadu (PMT) Prof. Dr. Hamka mengikuti kegiatan studi komparatif ke Pesantren Darunnajah yang beralamat di Pesanggrahan, Jakarta Selatan dan riset ekonomi ke Konveksi Alrazy, di Kreo Selatan, Larangan, Tangerang-Banten.

 Kegiatan yang didampingi oleh pimpinan Pesantren Hamka dan tiga orang ustazah dan diikuti oleh 17 orang santriwati SMA dan 8 orang santriwati SMP ini, bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman santriwati dalam hal organisasi pesantren dan program asrama yang untuk kemudian dapat mereka implementasikan, serta pengetahuan ekonomi yang difokuskan pada usaha konveksi yang dapat menumbuhkan minat bisnis santriwati.

“Setelah seperempat abad Pesantren Hamka berdiri, baru lima tahun ini kita memiliki santriwati yang sebelum-belumnya hanya dipenuhi oleh para santri saja. Generasi pertama santriwati saat ini sudah kelas dua SMA. Mereka baru dilantik sebagai pengurus Organisasi Pelajar Pesantreh Hamka (OPPH) Putri pada Desember 2016 lalu. Dengan mengikuti studi komparatif ke Darunnajah ini, dengan berfokus pada sistem organisasi dan program-program keasramaan, diharapkan pengetahuan dan pengalaman para santriwati kita bertambah. Hingga dapat mereka implementasikan sekembalinya ke Pesantren Hamka.” Demikian tutur Ustaz Najimuddin, pimpinan pesantren yang beralamat di Jalan Raya Padang-Bukittinggi KM. 28 Pasar Usang, Kab. Padang Pariaman, Prov. Sumatera Barat.

Kegiatan dimulai dengan riset ekonomi ke Konveksi Alrazy di Kreo pada Minggu pagi (15/1). Para santriwati dapat menyaksikan langsung proses pembuatan kaos, mulai dari pengadaan bahan ke gudang, proses pembuatan pola dan pemotongan, lalu proses penjahitan. Dengan dipandu oleh kepala gudang, para santriwati diperkenankan untuk bertanya apa saja terkait konveksi, mulai dari berapa total produksi Konveksi Alrazy dalam seminggu, ke mana saja dipasarkan, bagaimana penentuan pola kaos yang akan dibikin, berapa lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan satu kaos, berapa jumlah pegawai yang bekerja dalam sehari, bagaimana pengaturan jam kerja, ada berapa pola untuk kaos yang konveksi tersebut produksi, dan sebagainya. Tidak hanya itu, mereka juga dapat menyaksikan langsung proses pemotongan kaos sesuai pola yang diinginkan konsumen yang didemonstrasikan oleh pegawai bagian pemotongan itu sendiri. Para santriwati sangat antusias melihat proses pembuatan sebuah kaos bernilai jual dan diminati di pasaran, yang semulanya berasal dari bahan kain gulungan yang tampak biasa saja.

Setelahnya, mereka menuju Pesanggrahan ke Pesantren Darunnajah. Para santriwati mendapat pemaparan umum tentang kegiatan santriwati di sana, organisasi, dan program-programnya. Mereka dipersilakan bertanya jawab, berdiskusi, guna membandingkan keorganisasian santriwati Pesantren Hamka dengan keorganisasian santriwati Darunnajah yang tergabung dalam Organisasi Santri Darunnajah (OSDN), seperti bagaimana mengontrol santriwati yang jumlahnya ribuan, atau seperti apa program bahasa di Darunnajah untuk menggerakkan santriwati berbahasa Arab dan Inggris setiap waktu, dan sebagainya.

“Kami, keluarga besar Darunnajah menyambut rombongan studi komparatif dari Pesantren Prof. Dr. Hamka yang telah jauh-jauh datang. Silakan Ananda, para santriwati menanyakan apa pun. Semoga apa yang didapat di sini nantinya, bermanfaat untuk diimplementasikan di Pesantren Hamka,” ujar Lilis Kholishah, Kepala Pengasuhan Santriwati Darunnajah.

Setelah kegiatan diskusi resmi ditutup, santriwati Hamka dengan didampingi oleh para pengurus OSDN, mengeliling kompleks Pesantren Darunnajah, meliputi asrama putri, ruang organisasi, kelas, labor, dan sebagainya, untuk menyaksikan langsung rutinitas para santriwati Darunnajah yang berjumlah sekitar 1800 orang tersebut.

“Melalui kegiatan studi komparatif, kami mendapat banyak pengetahuan, terkhusus tentang program asrama, bagaimana mestinya sebuah konsekuensi diberikan sebagai hukuman atas suatu pelanggaran, atau program unggulan apa saja yang mesti diadakan untuk menunjang keterampilan bahasa santriwati, dan sebagainya, yang sebagian bisa kami teladani dan aplikasikan. Dari riset ekonomi, kami mengetahui proses usaha dari nol hingga beromset besar, bagaimana dari bahan mentah bisa menjelma kaos yang gagah,” komentar Servina Aulia Rahim, Ketua Organisasi Pelajar Pesantren Hamka (OPPH) Putri Pesantren Prof. Dr. Hamka.

(Dilaporkan oleh Yusrina Sri)