Wali Murid Keluhkan Diduga Maraknya Pungli di SMAN 1 Lhokseumawe

  • Whatsapp

Lhokseumawe – Wali Murid keluhkan Diduga maraknya Pungutan Liar (Pungli) di lingkungan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Lhokseumawe, pungutan tersebut dilakukan oleh pihak sekolah dari pengutipan biaya Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) hingga Paket Sembako untuk Ramadhan.

Hal tersebut disampaikan beberapa wali siswa dengan sengaja menghubungi awak media mengisahkan keluhan ulah pihak sekolah tersebut kepada wartawan disalah satu warung di Lhokseumawe saat bertemu. Kamis (07/21)

Bacaan Lainnya

example banner

Sabaruddin Salah seorang wali murid kepada media ini mengatakan, perihal tersebut ia keluhkan karena selama pandemi, ekonomi sangat sulit, meskipun sebelumnya tak pernah ia keluhkan dalam beberapa tahun ini tentang iuran tersebut.

Tak hanya itu Menurut pengakuan orang tua siswa, atas dasar perintah kepala sekolah yang disampaikan oleh wali kelas kepada siswa, mereka juga disuruh kumpulkan paket sembako untuk ramadhan dengan dalih untuk dibagikan kepada siswa kurang mampu.”sebutnya.

Meskipun pemerintah secara tegas telah melakukan larangan pengutipan bentuk apapun disekolah, namun berbeda halnya di SMAN 1 Lhokseumawe sebagai penerima Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pertahun lebih kurang 1,5 milyar ini dalam beberapa tahun ini masih juga melakukan pengutipan  disekolah.

“Setau saya dana BOS di sekolah SMAN 1 tersebut banyak, apalagi di masa pandemi ini sekolah diliburkan, kon bisa,’ dana BOS digunakan untuk beli sembako untuk di berikan kepada siswa kurang mampu.  Apalagi  kegiatan Osis, dimasa pandemi ini kon gak ada kegiatan.” Kata wali murid meniru ucapnya.

Menurut informasi yang diperoleh dari sumber media ini, salah satu sekolah unggul di lhokseumawe  yang sudah mencapai delapan tahun dijabat oleh perempuan tersebut. Sembako yang dikumpulkan dari siswa tersebut untuk dibagikan kepada dewan guru dan siswa kurang mampu. Belum lagi pengutipan biaya OSIS, persiswa senilai Rp. 200 ribu.

“Pihak sekolah setiap siswa disuruh membawa paket sembako, baik itu berupa, gula minyak atau sirup, kalo sirup sudah ditentukan merek. Dan selama pandemi ini tidak ada kegiatan apapun di sekolah ”jelasnya.

Sementara kepsek SMAN 1 Lhokseumawe Nurasma M Pd mengatakan, pihaknya membenarkan ada pengutipan biaya OSIS di sekolah, namun selama pandemi ini tidak ada yang membayar iuran tersebut, saat disinggu besarnya iuran tesebut, Nurasma hanya kilas itu urusan bidang kesiswaan.

Terkait adanya permintaan sembako dari siswa, ternyata beda halnya pernyataan wali murid, dimana nurasma menyebutkan semabko tersebut dikutip bagi siswa yang ingin bersedekah dan bagi siwa yang mampu.”sembako kita minta kumpulkan dari siswa kalangan mampu.”Jadi kalo yang tau  kategori siswa mampu wali kelasnya masing-masing.

“Kegiatan pengumpulan sembako ini sudah dari tahun yang lalu kita lakukan, dan kita juga sudah bermusyawarah dengan komite sekolah, datang saja besok kesekolah ada pembagian sekalian meliput,” kata Nurasma sambil mengundang wartawan datang ke sekolah untuk meliput kegiatan pembagian sembako tersebut.

Sementara kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lhokseumawe Anwar, saat dihubungi beberapa kal lewat sambungan seluler tidak diangkat. Lalu selang beberapa menit kemudian saat dihubungi kembali juga tidak diangkat.

Seperti diketahui larangan tersebut telah ditegaskan dalam undang undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendididikan Nasional dan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) No 44/2012 tentang Pungutan dan Sumbangan Biaya Pendidikan pada Satuan Pendidikan.

Pada Pasal 1 Ayat 1 Pungutan adalah penerimaan biaya pendidikan baik berupa uang dan/atau barang/jasa pada satuan pendidikan dasar yang berasal dari peserta didik atau orangtua/wali secara langsung yang bersifat wajib, mengikat, serta jumlah dan jangka waktu pemungutannya ditentukan oleh satuan pendidikan dasar.

Sedangkan dalam Ayat 2 Sumbangan adalah penerimaan biaya pendidikan baik berupa uang dan/atau barang/jasa yang diberikan oleh peserta didik, orangtua/wali, perseorangan atau lembaga lainnya kepada satuan pendidikan dasar yang bersifat sukarela, tidak memaksa, tidak mengikat, dan tidak ditentukan oleh satuan pendidikan dasar baik jumlah maupun jangka waktu.[]

 

Pos terkait