30 September, Korem 011 Lilawangsa Putar Full Film G-30S/PKI di Lapangan Sudirman

LHOKSEUMAWE | BN – Rencana nonton bersama (Nobar) yang akan di gelar besar-besaran pada 30 September mendatang, di Lapangan Jenderal Sudirman Lhokseumawe oleh pihak TNI untuk masyarakat luas di Wilayah satuan Korem 011/Lilawangsa. Ini penjelasan Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Kolonel Inf Agus Firman Yusmono saat Talk Show di RRI Pro 1 Lhokseumawe, Senin (25/9/2017).

Dijelaskan Komandan Korem 011/Lilawangsa Kolonel Inf Agus Firman Yusmono melalui Kepala Staf Korem (Kasrem) 011/Lilawangsa Letkol Inf Shofanuddin saat berdialog di Pro 1 RRI Lhokseumawe, pemutaran film G-30S/PKI sejak saat ini sudah di lakukan di jajaran TNI, khususnya di jajaran Korem 011/Lilawangsa atas intruksi dari Komandan Korem 011/Lilawangsa, yang bermula atas intruksi langsung dari Panglima TNI.

Bacaan Lainnya

“Intinya Panglima TNI menekankan kepada seluruh prajurit TNI untuk menonton kembali, dan itu bertujuan sebagai penginggat sejarah, apalagi khususnya prajurit-prajurit kami yang kelahiran tahun 90-an keatas, itu tentunya sudah lama mungkin tidak menonton bahkan mungkin ada yang tidak tau tentang sejarah tersebut.

Sesuai fakta mulai tahun 2008 sudah tidak lagi diputar film tersebut, dan Peristiwa G-30S/PKI ini boleh dikatakan hal yang luar biasa khusus bagi TNI, karena pada saat itu ada 6 Jenderal yang terbunuh dalam satu malam, dan tidak ada sejarah satupun di Dunia akibat perang atau apapun yang menewaskan 6 Jenderal sekaligus dalam satu kali atau satu malam, ini sangat luar biasa dan ini menjadi suatu catatan sejarah kelam bagi bangsa ini dan kita harus mengingatnya supaya kedepan peristiwa itu tidak akan terjadi lagi.

Selain itu, Kasrem mengatakan, bahwa nonton bareng tersebut bertujuan untuk mengingat kembali kepada kita generasi muda mulai TNI dari tingkat paling atas sampai kita disini satuan bawah bahkan sampai para babinsa di Desa-desa bersama warga masyarakat tentunya jangan sampai lupa dengan sejarah, seperti pesan pak Sukarno kita, jangan sampai lupa dengan Jas Merah.

“Mengenai film yang akan putar kedepan pada tanggal 30, kita akan putar sepenuhnya pada saat nobar dan betul-betul utuh yang aslinya agar masyarakat dapat melihat sebenarnya kronologis sehjarah bangsa atas kekejaman G-30S/PKI”, sebutnya.

Politisi dari PKS Lhokseumawe dan juga anggota Dewan setempat Diki Saputra menyebutkan bahwa dirinya sangat setuju dan mendukung pemutaran film G-30S/PKI oleh pihak TNI, dan pada saat itu dirinya juga hadir nobar di lapangan Iraq yang di putar oleh jajaran Korem 011/Lilawangsa nonton bersama masyarakat Lhokseumawe.

“Diki mengatakan juga kecewa, karena banyak film yang di potong maupun diedit menjadi durasi pendek, keinginannya termasuk seluruh masyarakat agar pemutaran pada malam 30 kedepan diharapkan agar sepenuhnya di tampilkan, karena keinginan seluruh masyarakat dapat menyaksikan dan dapat memahami sejarah bangsa pada saat itu.

“Termasuk ada seorang anak salah satu penonton sampai bertanya yang mana PKI itu”, memang persi Angkatan Darat itu di Edit sesuai sejarah penculikan dan proses kembalian Jakarta kepada TNI pada saat itu, tetapi bagi masyarakat akan bertanya yang mana PKI nya dan dari itulah sejarah yang harus diketahu masyarakat, saat ini masyarakat sangat-sangat mendukung pihak TNI untuk memutar kembali film sejarah kekejaman dan pengkhianatan yang dilakukan oleh Gerakan Partai Komuni Indonesia atau PKI, harapnya.

Kasrem menambahkan, sebab akibat antara hubungan peristiwa tersebut karena adanya keinginan dari PKI untuk mewujudkan idiologi komunisme, sehingga ini menjadi suatu hal yang tidak sejalan atau memberikan kontropersi bagi masyarakat kita, namun masyarakat kita juga ada yang tidak menerima hal tersebut.

“Kenapa ada tuntutan sekarang ini, ini lah fungsinya kita untuk mengingatkan kembali sejarah tersebut, mengingatkan kembali bahwa sebenarnya PKI saat itu melakukan tindakan kudeta, dari Kudeta tersebut tentunya akan menimbulkan keadaan suatu negara pada saat itu dalam keadaan kondisi Darurat, kalau keadaan dalam kondisi darurat tentunya hukuman juga berlaku hukum darurat, jikapun pada saat itu ada tindakan-tindakan diluar norma pada saat itu ya itu suatu hal yang wajar, karena pada saat itu dalam kondisi darurat”.

Maka bila saat ini ada tuntutan korban, khususnya dari PKI yang menuntut keadilan kepada masyarakat, loh sekarang kita kembalikan lagi, bagaimana dengan masyarakat kita, bagaimana dengan para korban Jenderal-jenderal kita yang anak-anaknya dan keluarganya yang dibunuh, apa mereka juga tidak ingin keadilan.

Kalau dilihat dari kondisi saat ini, keturunan-keturan yang terlibat dalam peristiwa G-30S/PKI mereka memiliki hak yang sama dengan kita baik secara hukum, kontitusi maupun yang lainnya, bahkan berkepentingan menjadi anggota dewan maupun sebagainya, kehidupannya pun tidak ada dikucilkan dengan kita walaupun mereka pernah berkihanat dengan kita.

“Saat ini mereka sudah berbaur, ya sudah tidak masalah, Namun peristiwa itu juga tidak boleh kita lupakan, bahwa itu pernah terjadi, sebagai sejarah kelam bagi bangsa ini, jadi rekonsi kita yang alamiah saja, artinya kita bekerja sama-sama berpikir untuk kemajuan bangsa ini, hal-hal peristiwa pahit itu di jadikan pengingat supaya jangan terulang kembali,”Pungkas Letkol Shofanuddin.(rel)

Pos terkait