Sitename

Description your site...

Viral !! Sajadah Hijau Pengganti ‘Red Carpet’

39498 KALI DIBACA
Viral !! Sajadah Hijau Pengganti ‘Red Carpet’

INI merupakan kejadian langka. Entah disengaja atau tidak, namun dalam sekejap jadi viral di dunia maya. Kasus heboh di Provinsi Aceh ini menerpa Kabupaten Bireuen. Sajadah, tempat bersujud berubah fungsi ‘red carpet’ bagi tetamu istimewa negeri.

BIREUEN, BN
Kisah bermula saat tiga orang tim survei akreditasi rumah sakit Kementerian Kesehatan RI tiba di provinsi paling barat Sumatera itu. Tujuan mereka tak lain adalah Kabupaten Bireuen, salah satu dari 23 kabupaten/kota di Aceh.

Mereka berada di Bireuen selama tiga hari terhitung dari Rabu dan kembali ke Jakarta, Sabtu (16/12) kemarin. Siapa sajakah mereka? Info diperoleh, ketiga tim survei akreditasi rumah sakit Kemenkes itu antara lain, dokter Firdaus Sai Sohar SP Red (K) SP Kes, Christian Theresa Sinaga SKP M Kep dan drg Ricky Marcello Rasyid Mars dimuliakan oleh pejabat Pemkab Bireuen Rabu malam sekira pukul 20.00 WIB.

Gelar acara temu ramah bersama Bupati Saifannur, Wakil Bupati Muzakkar, Kepala SKPK serta para undangan dari unsur dan kalangan lainnya di dalam pekarangan pendopo.

Begitulah kebiasaannya cara dan sistem pejabat daerah Bireuen menerima dan memuliakan tamunya yang datang dari berbagai pelosok, tidak ada pengecualian bagi pejabat tingkat pusat. Suasana pertemuan yang memakan masa hingga pukul 23.00 WIB itu berlangsung sukses dan penuh keakraban.

Tak ketinggalan selipan canda tawa dari kata kelakar uraian kata sambutan Bupati Bireuen H Saifannur yang menyapa tiga tetamunya dengan ucapan tiga bahasa daerah. Yakni Sumatra Barat, Tanah Deli dan Jawa.

Direktur RSUD Bireuen, dr Mukhtar Mars mengatakan, tim turun ke rumah sakit selama tiga hari yaitu Kamis, Jumat dan Sabtu untuk melihat dan menilai secara dekat RSUD Bireuen. Dikatakan, ada 15 pokja penilaian mulai dari manajemen sampai kepada lingkungan rumah sakit dan berbagai item penilaian lainnya secara menyeluruh termasuk sasaran bidang keselamatan pasien.

Namun, semeriah apa pun suasana yang berlangsung pada malam harinya saat pertemuan awal dengan tim tamu Jakarta itu pupus dan malah berbalik menjadi aib ketika siang harinya. Pasalnya, tim survei akreditasi rumah sakit Kementerian Kesehatan RI mengawali tugas utamanya di Rumah Sakit Umum Daerah RSUD dr Fauziah Bireuen, Kamis (14/12).

Peristiwa aneh dan memalukan sekaligus dinilai banyak pihak telah melecehkan kepercayaan umat muslim berlaku mulus. Panitia penerima tamu dari kalangan pegawai rumah sakit plat merah setempat sengaja mempersiapkan bentangan sajadah shalat bergambar masjid untuk lajur arah mempersilahkan tamunya.

Tak ubah seibarat para penyanjung tetamu yang biasanya menyediakan karpet merah (red carpet) yang biasanya digunakan untuk menggambarkan situasi. Di mana sebuah karpet merah panjang dan besar digelar untuk menghormati dan menyambut para undangan yang datang ke acara itu.
Biasanya acara yang menggunakan red carpet jenisnya formal dan dihadiri para tamu-tamu VIP. Kejadian dari perangai ala Rumah Sakit Umum dr Fauziah itu pun spontan mendapat hadiah kecaman dari berbagai kalangan baik secara langsung atau lisan maupun via medsos dunia maya (dumay) semacam facebook, WA dan istagram.

Banyak kalangan yang mengutuk pihak rumah sakit kebanggaan masyarakat Bireuen tersebut dengan kejadian yang dinilai mustahil di luar kesengajaan.

Apalagi kejadian menggunakan sajadah untuk penghormatan tamu di acara akreditasi RSUD Dr Fauziah Bireuen untuk alas sepatu tersebut justru diperagakan oleh pejabat-pejabat medis di kabupaten yang santer dengan nama Kabupaten “Religius” alias Kota Santri Bireuen.

Entah apa yang terbersit dalam pikiran sang penerima tamu akreditasi sehingga bertingkah sangat melampau jika dinilai dari segi agama. Apalagi saat prosesi penyambutan tim berlangsung juga diramaikan oleh lebih sertus para ahli tenaga medis yang melingkar membentuk barisan seibarat apel rutin Senin.

Ataukan rata-rata ahli serta perawat RSUD dr Fauziah Bireuen memang sudah terkena wabah penyakit lupa, hanya terpaku dengan bibir ikut tersungging menyaksikan sarana tempat shalatnya diinjak denga alas kaki didepan matanya sendiri.

Entahlah, meskipun memang ada penyakit lupa atau disebut Dimensia atau penyakit Alzheimer yang sering hinggap pada makhluk manusia, namun tidak masuk akal jika kejadiannya serentak terjangkit gejala yang sama dalam waktu bersamaan.

Menurut penjelasan ilmu kedokteran, penyakit Alzheimer merupakan suatu penyakit lupa atau dimensia yang banyak terjadi dan gejala awalnya ditandai dengan daya ingat semakin melemah. Biasanya pada tahap awal lupa dengan hal-hal kecil seperti lupa nama benda dan tempat, kemudian suka tersesat, walau pun berada di lingkungan sendiri.

Tak ada yang memberi keterangan alasan kenapa semua hal memalukan serta kaitannya dengan pelecehan sarana tempat ibadah tersebut disengajakan terjadi ataupun kesilapan murni. Begitu pun terkait dengan adanya statemen Gubernur Aceh Irwandi Yusuf beberapa saat usai melakukan Pelantikan Terhadap Bupati Bireuen H Saifannur dan Wakilnya Muzakkar awal Agustus lalu, yang menyatakan bahwa “Perjuangan H Saifannur Menjadi Bupati Sama dengan Perjuangan Peresiden AS Donal Trump”, juga tidak kaitan sama sekali karena saat itu sang Gubernur pun mengatakan hal tersebut dengan intonasi setengah kelakar. (Roesmady)