Sitename

Description your site...

PT BAS Bireuen Abaikan Ribuan Hektar Lahan Kelapa Berproduksi Milik Warga Desa Tetangga

3217 KALI DIBACA
PT BAS Bireuen Abaikan Ribuan Hektar Lahan Kelapa Berproduksi Milik Warga Desa Tetangga
Rutinitas pekerja harian digudang PT BAS Cot Bate Geuluengkue Bireuen, Ketika Suplay Bahan Baku Biji Kelapa dari agen pemasok stabil

BIREUEN | BN – Keberadaan Pabrik Pengolahan Berbahan baku buah kelapa milik PT Buana Aceh Sejahtera (BAS) di kawasan pebukitan Cot Bate Geuleungkue, Kecamatan Simpang Mamplam Kabupaten Bireuen Yang memulai aktifitasnya sejak pertengahan tahun 2016, nyatanya sedikitpun tidak membawakan angin segar dalam hal mendongkrak kesejahteraan masyarakat disejumlah desa seputaran lokasi bangunan pabrik dan gudang pembelian perusahaan tersebut.

Terbukti, dari keterangan sejumlah masyarakat yang umumnya memiliki lahan dengan pokok kelapa yang sudah lama berproduksi tidak ada seorangpun yang berhasrat mengalihkan penjualan hasil panen kelapa kepada pengusaha suku cina beralamat Sumatra Utara  dibawah bendera PT BAS.

Dari beberapa Desa lintasan jalan masuk pintu gerbang Simpang Tambue, Meunasah Asan, Peuneulet Baroh, Peuneuleet Tunoung, Ulee Kareueng, Blang Panyang, Desa Calok hingga memasuki beberapa Desa lagi arah jalan keluar melalui jempatan Simpang Keude Pandrah sejak lama sudah dikenal sebagai kawasan penghasil  buah kelapa milik pribadi masyarakat setempat.

Namun hingga hari Selasa 12 September 2017 sore, menurut informasi yang dituturkan tokoh Pemuda Desa Blang Panyang “Abu Arafah” kepada BongkarNews melalui ponsel pribadinya antara lain menyebutkan, pihak perusahaan PT BAS tidak pernah melakukan pendekatan apalagi inisiatif dengan sebutan kerja sama dengan petani kelapa terdekat, mereka lebih mengandalkan pasokan bahan baku  luar kecamatan, luar daerah dan entah dari mana-mana lagi.

Sebaliknya juga, menurut sepengetahuan tokoh muda mantan pejuang Aceh ini tidak ada seorang wargapun yang tergiur menawarkan hasil panen kelapanya kepada PT yang membangun gudang penyimpan dan pabrik pengolahan sejarak cuma satu kilometer kearah selatan desa Peuneuleet Baroh dan Desa Ulee Kareueng Kecamatan Simpang Mamplam.

Apalagi menurut penuturan seorang wanita PNS warga Desa Peuneuleet Tunong, tak ada yang istimewa dengan nilai rupiah yang akan diperoleh dari agen pengumpul yang langganan biasa dijual itu. “Harga belinya dari label PT BAS juga sangat kentara murah daripada bayaran dari agen pengumpul langganan biasa,” papar sumber, yakni sosok wanita berprofesi Cek Gu  SD itu.

“Pembeli atau agen pengumpul buah kelapa hasil panen dari lahan kami itu mengaku akan mengangkut untuk dijual kembali kepada Toke Mitra ikatan bisnisnya di kawasan Propinsi Sumatra Utara sana,” demikian uraian rinci dari Bu Guru SDN kawasan Desa pesisir itu kepada wartawan media ini Selasa 12 September 2017, yang minta agar namanya tidak dituliskan media.

Keterangan lainnya diperoleh dari Boihaqi, Sekdes Desa Meunasah Asan Tambue Kecamatan Simpang Mamplam. Boy merupakan salah seorang agen pengumpul kelapa yang sejak dari10 tahun lalu hingga berita ini diberitakan masih menggeluti rutinitasnya sebagai pemasok kelapa kepasaran Medan.

Bermodalkan modal pembelian yang berkecukupan didukung dengan 2 unit sarana pengangkutan jenis Mitsubishi L 300 Pick Up dengan kapasitas angkut perunit mobil berkisar 3 sampai 4 ton, sekdes meunasah Asan Tambue ini masih santai memasok biji kelapa ke pasar Medan setidaknya dengan cycle tiga kali jalan dalam masa satu bulan.

Atau kapasitas dua unit L 300 setara dengan 6 sampai 8 ton sekali angkut dengan total tiga kali angkut adalah 18 – 24 ton perbulannya. “Sejujurnya, sejak saya memulai bisnis jual-beli buah kelapa sampai sekarang ini, bahan baku dari jumlah yang saya butuhkan itu masih tersedia melimpah didesa-desa terdekat, tanpa harus saling sikut  dan bersaing harga di daerah kabupaten lain,” ungkap Boyhaqi.

Orang kedua dalam jajaran struktur pemerintahan desa yang terletak sekitar dua kilometer arah utara persimpangan Keudee Tambue Kecamatan Simpang Mamplam ini juga menambahkan bahwa, selain dia setidaknya ada 4 unit lagi mobil angkutan barang ukuran simple milik warga sekawasan tinggal dengannya yang juga masih bertahan menjalankan profesi yang sama, bolak-balek Aceh – Medan menyuplay biji kelapa siap kupas dari hasil panen lahan warga Kecamatan Simpang Mamplam.

Menanggapi Kehadiran investor dengan membangun pabrik serta gudang penyimpanan buah kelapa PT BAS diKabupaten Bireuen, Pejabat Bagian Dinas Kehutanan yang tergolong penyuluh lapangan senior Ir Irama Ibrahim via ponsel pribadinya Selasa 12 september 2017 menjelaskan, kehadiran pemilik modal untuk berinvestasi di Kabupaten Bireuen semestinya didukung semua pihak.

Meskipun demikian sasaran dasar membuka peluang untuk berbisnis bagi pengusaha luar daerah tentu saja dengan terlebih dahulu menimbang plus-minusnya bagi kedua pihak. (Pemda dan Investor).

Khusus terhadap investor fokus bahan baku hasil perkebunan berupa buah kelapa dengan payung PT BASnya, proses pengoperasiannya tidak sepantasnya berjalan menggap-menggap jika dikaitkan dengan baku yang diperlukan berupa buah kelapa dalam Kabupaten Bireuen sudah tersedia minimal seluas 12.000 hektar lahan kelapa produktif. Tak terkecuali dengan bahan dan keperluan pendukung utama kemapanan berdirinya perusahan,  semuanya tersedia di Kabupaten Bireuen.

Menurut Irama, seyogianya pihak pengusaha PT BAS tidak menafikan kenyataan alam bahwa di sejumlah desa bagian pesisir terdekat terhampar luas lahan produktif milik pribadi masyarakat. Keadaan ini tentunya akan menjadi power utama sebagai pendukung menjelang stabilitas catatan ADM.

Pegawai senior Dinas Perkebunan Bireuen ini juga mengaku jika pihaknya turut dilibatkan pada awal-awal perancangan titik kelayakan pembangunan pabrik serta gudang penyimpanan barang pembelian dilahan pemerintah daerah yang dipersiapkan untuk Kawasan Industri Bireuen (KIB) itu. “Namun fase persiapan berikutnya pihak PT BAS barangkali memang tidak mengharapkan arahan atau jasa kami lagi,” Kupasnya.

“Petani kelapa yang memiliki lahan terhampar sepanjang pesisir Kecamatan Simpang Mamplam itu jangan diabaikan, malah dengan berbagai cara harus dilakukan pendekatan secara mengikat hingga terbentuknya wadah semacam koperasi atau kelompok tani,” urai Irama Ibrahim.

Sumber lainnya dari unsure pengurus desa sejumlah kecamatan yang dimintai tanggapannya oleh BongkarNews memberi gambaran, awalnya kita ikut berbangga dengan tekat investor menanam modal di Kabupaten Bireuen kita ini contohnya PT BAS.

Namun seiring perjalanan proses, muncul beragam polemik yang seakan menggambarkan ada oknum berprilaku tidak sehat menguasai jalannya ADM PT BAS, atau terdapat pengambil kebijakan yang memihak diluar kepentingan utama demi memperkokoh Berdirinya dan berjalannya sistem pengoperasian sesuai catatan AD/ART perusahaan. (Roesmady)

banner 468x60