Penyelesaian Batas Tanah Adat Antara Suku Sumuri, Irarutu dan Mbham Matta Belum Menemukan Titik Temu

BINTUNI | Bongkarnews.com – Pertemuan penyelesaian tapal batas tanah adat antara suku Sumuri, Iraruti dan Mbham Matta yang difasilitasi oleh Pemda Teluk Bintuni dan FakFak di Distrik Bomberai, Sabtu, (25/8), belum menemui titik temu.

Masing masing suku tetap pada pendirianya bahwa, batas wilayah adat merekalah yang paling benar. Sehingga pertemuan selanjutnya disepakati akan dilaksanakan di Manokwari yang difasilitasi oleh Provinsi Papua Barat.

Bacaan Lainnya

Bupati Teluk Bintuni, Ir Petrus Kasihiw MT saat dalam forum pertemuan penyelesaian batas wilayah adat mengatakan, pihaknya hanya memfasilitasi pertemuan keluarga ini, untuk menyelesaikan permasalahan batas tanah adat.

“Kalau hari ini tidak bisa diselesaikan, masih ada waktu untuk menyelesaikanya, baik itu dilakukan di Aroba atau dimana saja. Sebelum pertemuan ini, saya sudah sampaikan kepada saudara saudara saya bahwa perjalanan ini merupakan temu kangen antara keluarga dan keluarga. Kalau ada dinamika dinamika yang berkembang diluar, mari kita dudukan dalam kebiasaan adat dan budaya kita yang dijunjung tinggi sejak nenek moyang kita di atas tanah ini,” demikian dikatakan Petrus.

Namun sebelum pertemuan dilaksanakan, Bupati Teluk Bintuni meminta pernyataan perang oleh Ketua Lembaga Adat Mbham Matta di salah satu media online di Kabupaten FakFak diselesaikan terlebih dahulu.

Akhirnya dalam pertemuan tersebut, Ketua Lembaga Adat Mbham Matta meminta maaf atas pernyataanya dan akan ditindaklanjuti dengan pemberian symbol symbol adat di pertemuan berikutnya.

Bupati FakFak, Drs Mohamad Uswanas mengatakan, terkait permasalahan adat, silahkan dipresepsikan tapi saya dan Bupati Bintuni berkomitmen bahwa, selanjutnya diangkat untuk menunggu penyelesaian dari tingkat provinsi.

Terkait pernyataan Ketua Lembaga Adat Mbaham Matta, beliau sudah secara terbuka menyampaikan permohonan maaf.

Sementara itu, Staf Ahli Gubernur Papua Barat, Bidang Pemerintahan dan Otonomi Khusus, Robert R Adrianus Rumbekwan mengatakan, pihaknya ditunjuk oleh Gubernur untuk mengikuti pertemuan penyelesaian batas tanah adat ini, dan pesan Gubernur walaupun saudara saudara emosi tapi hati harus dingin agar selalu ada kata damai di hati. Karena yang menyelesaikan masalah ini bukan orang lain tapi keluarga ini sendiri.

“Saya mengutip dua syair dari dua lagu yang berbeda, pertama hitam kulit, keriting rambut, aku Papua artinya, tidak ada orang lain datang selesaikan masalah ini tapi kita orang Papua sendiri yang selesaikan masalah kita di tanah ini. Syair kedua, sungai yang deras, mengalirkan emas, artinya, negeri kita ini sangat kaya raya tapi kita harus penuh dengan hikmat untuk menyelesaikan sesuatu yang kita selesaikan,” tegas Robert Rumbekwan.

Pesan dari pemerintah pusat bahwa, limit waktu tanggal 31 Agustus penyelesaian tapal batas, sehingga permasalahan ini dalam waktu kedepan ini harus sudah selesai.

Dengan demikian sama sama menyikapi kebijakan ini, karena jangan sampai larut dalam persoalan ini dan tidak selesai, sehingga ketika pemerintah pusat mengambil sikap, nanti kita sendiri yang akan menjadi korban diatas ketetapan yang dibuat.

“Untuk itu saya sangat setuju sekali kalau selesai pertemuan di Distrik Bomberai, balas lagi pertemuan di Distrik Aroba untuk secepatnya memutuskan sesuatu yang penting bagi ke-dua belah pihak,” katanya.

Hadir dalam pertemuan penyelesaian batas tanah adat antara Suku Sumuri, Irarutu dan Mbham Matta di Bomberai Kabupaten Teluk Bintuni, Sabtu (26/8), diantaranya dari FakFak, Bupati FakFak, Drs.Mohamad Uswanas, Kepala Bagian Tata Pemerintahan, Joko, Kapolres FakFak, Dedy F Millewa SH SIK MIK, Dandim FakFak, Letkol Infantri Yutiman AMD, Ketua Lembaga Adat Mbham Matta, Staf Ahli Gubernur Papua Barat Bidang Pemerintahan dan Otonomi Khusus, Robert R Rumbekwam SH MH, Kepala TopDam XVIII Kasuari, Kolonel Infantri Heri Sulistio dan 9 raja. Diantaranya Raja Arguni, Karas, Ati Ati, Rumbati, Tomage dan lain lain.

Dari Kabupaten Teluk Bintuni diantaranya, Bupati Teluk Bintuni, Kapolres Teluk Bintuni, AKBP Andriano Ananta SIK, Kepala Kejaksaan Negeri Teluk Bintuni, Marthen Tandi. Kepala Bagian Pemerintahan, Agustinus Tulaheru, Staf Bupati Bidang Kehutanan Ir I B Putu Suratman MM, Staf Khusus Bupati Wem Fimbay, LMA Irarutu Anton Anofa, Kepala Suku Irarutu Marthen Wersin, Ketua LMA Sumuri, Tadius Kosa.Ketua LMA Wamesa, Hendrik Sirimbe, Ketua LMA Sebyar, Yohakmin Bauw, Kadistrik Aroba, Gadis Fimbay SIP dan Kadistrik Fafurwar Melianus Okrofa.(Humas&Protokoler)

Pos terkait