Sitename

Description your site...

script type="text/javascript"> var uid = '184876'; var wid = '396385';

PAD Bireuen Akan Berjaya Andai “Pengusaha Terpengaruh” Tau Diri

3577 KALI DIBACA
PAD Bireuen Akan Berjaya Andai “Pengusaha Terpengaruh” Tau Diri
Foto : Tak ada muncul perasaan jika kegiatan yang dilakukannya itu akan merusak lingkungan, para pengusaha “terpengaruh” rutin mengeruk hasil tambang daerah untuk terus dijadikan rupiah, walau tanpa secuilpun insiatif balas jasa pengembalian dalam bentuk setoran restribusi pajak dari penghasilan melimpah yang diperolehnya.

BIREUEN | BN – Upaya mengumpulkan pemasukan lebih suatu daerah sebagai harta kekayaan yang akan digunakan kembali untuk modal Pendapan Asli Daerah (PAD) dilakukan sesuai keputusan  pengambil kebijakan pada segala line. Rata-Rata pengusaha yang meraup hasil tambang berupa Pasir, Batu dan Kerikil (SirTu Kil) disinyalir beroperasi illegal atau tidak mengantongi izin sah dari instansi terkait.

Baik itu bersumber dari kutipan restribusi penjualan hasil bumi, restribusi parker kenderaan diatas sarana pemda, pajak bumi dan bangunan, kutipan hasil bumi berupa bahan pertambangan serta hasil bumi  lainnya.

Namun walau begitu banyak item legal kutipan, pemasukan angka lumayan seringnya berasal dari hasil perpajakan hasil alam seperti jenis material pasir dan bebatuan. Nilai kutipan restribusi berupa pajak galian C inilah yang Nampak cepat dan nyata peningkatan angka masukan bagi sebuah daerah.

Pembagian hasil dari bahan tambang tersebut sangat didambakan oleh sebuah daerah baik tingkat Propinsi demikian juga daerah tingkat II, dan pastinya termasuk Kabupaten Bireuen, Propinsi Aceh.

Perkembangan zaman yang diiringi laju pembangunan yang begitu sibuk dan pesat pasca tsunami di Propinsi Aceh program pembangunan yang mengandalkan material bahan bangunan berlaku dirata kabupaten. Material yang dibutuhkan selain bahan bangunan kontruksi yang dijual dipasaran juga dibutuhkan material dasar seperti hasil bumi jenis pasir serta beragam bebatuan.

Sejatinya perkembangan ini akan berbarengan dengan peningkatan angka kekayaan daerah dari kutipan restribusi material hasil alam yang dikeruk dan diperjual belikan seorang pengusaha kontruksi. Namun fakta yang terjadi ternyata tidaklah demikian.

Kejanggalan ini nyatanya terjadi akibat petugas pemerintahan yang cendrung lebih senang meraup masukan untuk jatah pribadi dalam besaran seadanya berbanding menjalankan aturan tegas sesuai peraturan yang lahir dibidani qanun demi penambahan jumlah angka  kekayaan sebuah daerah.

Bireuen yang menjadi sebuah kabupaten dari kumpulan 17 kecamatan, terdapat sejumlah titik pengerukan tambang jenis pasir serta bebatuan hasil bumi yang umumnya dioperasikan sepanjang jajaran sungai.

Kita sebutkan sampel dari fakta yang sudah sekian lama terjadi di tiga kawasan, yaitu di kawasan bagian timur Kecamatan Kuta Blang, jajaran Sungai Kecamatan Juli dan kawasan ujung barat deretan sepanjang sungai Bate Ie Liek Kecamatan Samalanga.

Aktivitas pantang henti dan tak peduli merusak alam yang terlihat dari kasat mata public begitu nyata, baik dari kesibukan warga penambang pasir, lalu lalang angkutan bak terbuka ukuran sedang dan besar  ukuran beban angkut muatan sekira 40 ton yang rutin tampak melintas bareng dengan transportasi umum lain dan pada jalur sarana lintas yang sama, seakan dapat dipastikan hal tersebut akan menggenjot pemasukan lebih untuk daerah dalam kewajiban pembayaran kewajiban restribusi pajak oleh pemilik usaha tersebut.

Akan tetapi, prasangka positif itu tidaklah tepat nyatanya. Menurut informasi yang diperoleh Bongkar News, meskipun lokasi pengambilan material terlihat nyata lebih dari 10 titik pengerukandiberbagai lokasi, dalam Kabupaten Bireuen namun pihak pengusaha atau pelakubisnis pengerukan hasil meterial tambang tersebut rata-rata tidak berinisiatif menyetor secuil rupiah pun ke alam asalnya lewat bayaran pajak daerah atawa  sebutan restribusi.

Demikian pula halnya pabrik pengolahan material mulai dari crusser penghasil sertu hingga pendirian mesin olah Aspal AMP yang dibangun megah disejumlah tempat pinggiran jalan Negara Kabupaten Bireuen.

Misalnya saja dikawasan sekira 500 meter menjorok kedalam Desa Bate Ie Liek Samalanga, Mesin pengolahan material pasir dan batu Crusser plus AMP kawasan Cot Bate Geuleungkue Kecamatan Simpang Mamplam, serta beberapa sarana yang sama milik pengusaha kontruksi jaya dikawasan krueng Anjou dan Kuta Blang kawasan Bireuen.

Keterangan yang diperoleh dari pejabat menengah bagian pendapatan pemkab Bireuen menyebutkan kesemua pabrik pengolahan bahan material alam yang ada itu pada umumnya tidak memilki izin legalitas, sehingga pihak pemerintah daerah tidak wajar ngotot melakukan hitung – hitungan wajib untuk mendapat bagian kas daerah.

Maka tak heran, karena sistem operasional yang dipertahankan dengan andalan pengaruh aura atau ternama masa lalu dan sebagainya kerab aus dan sirna membuat para oknum lain yang punya dasar kepentingan timbul saling caper hingga menimbulkan konflik pribadi.

Pada umumnya, sosok pelaku nekat berbenturan konflik itu adalah mereka yang tercatat sebagai sosok kepercayaan dilapangan para pengusaha kaya. Dengan cara dan gaya tersendiri oknum yang lebih “pecaya diri” daripada adanya hukum tersebut akan beraksi bak  seorang “hero” demi mempertahankan rutunitas bisnis yang dilakoni “boss” perusahaan yang dia kawal.

Sebagaimana peristiwa yang terjadi baru-baru ini terhadap adik kandung seorang pemuda kepercayaan seorang pengusaha di Kabupaten Bireuen terpaksa diperkenalkan hukum oleh pihak kepolisisn Polsek Samalanga, karena nekat berlaku ringan tangan terhadap tampang Ketua Tuha Peuet Desa Pulo Baroh Samalanga, Bireuen.

Urusan pidana terkat main hakim sendiri ini konon diperagakan anak muda bersangkutan karena tidak menerima warga Desa Pinggiran Sungai Bate Ie Liek tersebut menghalau alat berat becchou pengeruk pasir yang dioperasikan dan dikawal abang kandung pelaku, yang menurut informasi alat berat tersebut merupakan kepunyaan  pengusaha yang juga pemilik pabrik crusser dipinggiran jalan raya Cot Bate Geuluengkue, Simpang Mamplam, Bireuen.

Sumber dari seorang tokoh kawasan Bate ie Like Samalanga Kamis 16 November 2017 kepada wartawan media ini di Keude Samalanga menyatakan, kasus pemukulan terhadap ketua tuha Peuet di Desa tetangganya kuat dugaan akan berlanjut keranah persidangan menyusul gagalnya kata “sepakat damai” antara para tetua desa pelaku dan korban.

Beragam kata sorotan sisnis terhadap penegak hukum akibat pembiayaran praktek illegal yang dimainkan sejumlah pengusaha-pengusaha kaya raya di kabupaten Bireuen oleh masyarakat peduli dan idealis sepertinya tidak mempengaruhi mereka untuk “geli dan merinding”.

Malahan, mungkin karena geming yang sudah terlanjur kentara pihak Kepolisian Bagian Reskrim Polres Bireuen sempat bertindak melakukan penangkapan terhadap tiga truk berbody “bahenol”  yang melintas dijalan Negara dengan mengangkut beban  batu gajah untuk material pemasangan revetment.

Angkutan ukuran besar sejenis Hino itu sedang melaju kearah timur Bireuen setelah memuat beban angkuatan batu gajah dikawasan Kecamatan Juli. Dikabarkan Hasil tangkapan tiga truk plus satu unit Escavator (beccho) sempat mangkal samping pintu gerbang Mapolres Bireuen beberapa hari belum lama ini.

Malahan, pihak Reskrim Polres Bireuen sempat member pernyataan jujur jika dum truk besar dan beccho dimaksud adalah merupakan barang bukti yang sudah berpidah lokasi kekantor Kejaksaan Negeri Bireuen sebagai syarat pelimpahan kasus karena kelengkapan BAP nya sudah P21.

Namun,hasil siasat lanjut wartawan ke seputaran bangunan kantor Kejaksaan Negeri Bireuen alat berat barang bukti yang disebut-sebut miliknya pengusaha dengan nama “Toke Ouh” telah tiada. “Kami Tidak Tau Tentang Kasus Itu,” tutur seorang perempuan berkustum coklat PNS dibagian pintu belakang kantor Kejaksaan Negeri Bireuen saat itu.

Seorang dari wartawan yang ikut menyambangi kantor yang menangani urusan hukum depan bangunan kantor Bupati Bireuen Cot Gapu sampai bergumam, mana BB nya kok nggak kelihatan..? Atau barangkali Batu besar (Batu Gajah) yang sering digunakan sebagai penangkal ombak tepi pantai itu sudah lenyap dan masuk kembali kedalam tanah sekalian dengan  tiga unit dum truk besar Hino hingga satu unit Beccho tipe A pun ikut-ikutan tiarap kedalam lubang yang sengaja dibuatnya. Entahlah.

Yang Pasti, bagian produksi hasil pertambangan hingga hasil produksi AMP ini adalah merupakan PR lain bagi Bupati Saifannur agar usaha milik pengusaha besar di Bireuen ini memiliki makna positif serta benar-benar meningkatkan pajak pemasukan lebih bagi  Kabupaten Bireuen. (Roesmady)

 

 

script type="text/javascript"> var uid = '184876'; var wid = '396385';
script type="text/javascript"> var uid = '184876'; var wid = '396385';