Merasa Dipermainkan Dan Dizalimi, Sejumlah Agen Mitra Stop Pasok Kelapa ke PT BAS Bireuen

Inilah Sebagian dari jumlah Rombongan wartawan Bireuen dalam kenangan Tour ke Negara tetangga mendekati jadwal Pilkada 2016 lalu, berpose bersama mantan Kabag Humas pemkab Bireuen Farhan Husen (kedua dari arah kanan) plus seorang Staf Humas Mursyidin (Paling kiri) dibandara Kualanamu Sumatra Utara, Medan.. Konon mereka terbang “berhalusinasi”, berkat dukungan financial paket dari PT BAS Bireuen yang menurut hasil evaluasi diinformasikan sukses menjalankan misi bisnisnya di Kabupaten Bireuen. Namun tak jelas, misi bisnis bidang apa yang dianggap sukses sampai bersedia menyediakan paket tour untuk sejumlah wartawan Bireuen saat itu.

BIREUEN | BN – Kehadiran investor asing PT Bumi Aceh Sejahtera (BAS) dengan fokus kerja sama mendapatkan bahan baku buah kelapa di kawasan Cot Bate Geuleungkue Kecamatan Pandrah, Kabupaten Bireuen yang beroperasi sejak akhir tahun 2016 nampaknya tidak berdampak  mujur atau semacam membawa hidayah kepada petani kelapa dan masyarakat lingkungan pabrik tersebut secara umum.

Apa yang diuraikan selama ini via sejumlah media tentang nilai plus bagi rakyat sekawasan Bireuen nyatanya lebih dominan kepada masker pencitraan dengan bermacam kekurangan yang dimiliki oleh sistem amburadul yang dianut perusahan investor asal Korea tersebut.

Bacaan Lainnya

Malahan, sejak kehadiran pabrik pengolahan buah kelapa di kawasan pebukitan Kecamatan Pandrah pihak management kerap melaksanakan siraturrahmi bersama pejabat kabupaten serta berbaur menggelar kegiatan sosial dengan warga sekitar sebagaimana  yang selama ini terangkat kepermukaan melalui pemberitaan sejumlah media.

Lebih menohok lagi ketika pihak management PT BAS melalui Humas perusahan tersebut menyanjung sejumlah wartawan Bireuen untuk terbang berleha-leha ke Negara tetangga beberapa waktu lalu, sebagai bentuk terimakasih atas jalinan kebersamaan sehingga dengan dukungan paparan karya para jurnalis PT BAS seakan telah sukses sesuai target bisnis.  Padahal tidaklah demikian adanya.

Informasi yang dihimpun BongkarNews dari berbagai sumber tentang berdirinya pabrik pengolahan buah kelapa dikecamatan bagian barat Kabupaten Bireuen tersebut tidak ada hikmah apapun bagi masyarakat seputaran, meskipun diantara masyarakat setempat mempunyai lahan kelapa luas yang sudah lama  panen stabil.

Bahkan menurut informasi terkini yang diperoleh media ini, sistem management yang dijalankan oleh pihak Perusahaan Cina Tua dan seorang Perempuan asal Medan PT BAS menjurus kepada penutupan pabrik oleh kelapa yang didirikan ditanah Pemda Bireuen dengan sistem sewa tahunan tersebut.

Betapa tidak, sejumlah agen pengumpul kelapa andalan yang sejak sarana tersebut beraktifitas akhir 2016 mengaku sudah memulai bermitra serta rutin memasok bahan baku kelapa ke PT BAS Cot Bate Geuluengkue Bireuen setidaknya dalam jumlah minimal 5 ton per agen/hari telah berhenti berbisnis jual-beli kelapa dengan perusahan tersebut sejak sekira dua minggu jelang Hari Raya Idul Adha.

“Saya merasa dizalimi oleh mereka dengan kebijakan sepihak. Sistemnya, kelapa yang kami pasok tidak segera dihitung dan dibayar. Mereka lebih cendrung mengulur waktu dan menyodorkan resi bukti terima barang lalu diminta kembali setelah dilakukan perhitungan jumlah barang kami.

“ Entah bagaimana cara hitung sepihak mereka sehingga kelapa kami kemudian banyak susut dan dinyatakan tidak memenuhi standar (BS). Sistem ini tidak berlaku sama sekali ditempat gudang pembelian lain, diMedan sekalipun,” demikian pengakuan Khairil, agen pengumpul dan pemasok buah kelapa asal NIsam Aceh Utara, via telepon selulernya kepada Bongkar News Minggu 10 September 2017.

Sejak merasa dipermainkan dan mengalami banyak kerugian, Khairil mengaku memilih menjual bahan baku kelapa yang terkumpul digudangnya kedaerah Sumatra Utara Kisaran sana.

“Memang sistem penjualan barang ke Toke medan itu juga harus melalui banyak proses, namun mereka tidak pernah menzalimi dan membuat rugi mitra kerja seperti kami,” ungkap Khairil seraya menambahkan harga beli juga jauh beda selisih rupiahnya setelah kami memotong semua kebutuhan biaya transportasi..

Demikian pula dengan keterangan jujur agen istimewa pengumpul kelapa asal Kecamatan Gandapura Kabupaten Bireuen bernama Fuadi. Menjawab BongkarNews melalui ponselnya, Fuadi menilai pemerintah setempat patut mengawal sistem pembelian buah kelapa masyarakat yang dianut oleh investor bermata sipit di Cot Bate Geuluengkue.

“Terus terang sejak kami diberlakukan  semena-mena serta mengalami kerugian dengan cara dinyatakan barang BS saat dilakukan sortir kembali barang yang kami pasok saya langsung stop mengangkut dan menjual bahan baku kelapa ke PT BAS,” tandasnya.

Menurut penuturan Fuadi, Agen pengumpul  kelapa  asal  Geureugok Kecamatan Gandapura tersebut, Kehadiran investor Negara tetangga berbisnis ke Bireuen itu bukannya mampu meningkan perekonomian masyarakat lewat tampungan hasil perkebunan buah kelapa seperti yang diiming-iming sebelumnya. Namun lebih layak disebut membohongi dan menzalimi masyarakat setempat dengan kebijakan sepihak, tanpa mau tau kerugian yang menimpa agen pemasok,” urai demikian pengakuan Fuadi Geureugok.

Khairil Nisam dan Fuadi juga mengatakan bahwa sekitar dua hari lalu, pihaknya mendapat undangan via SMS dari pihak management PT BAS untuk hadir ke area bangunan PT BAS dengan alasan mengikuti acara siraturrahmi pada hari Rabu 13September 2017.

“Ini pasti terkait dengan keengganan kami memasok bahan buah kelapa ke PT itu, dan sepertinya kami tidak perlu memenuhi undangan acara siraturrahmi dengan mereka, selain hubuangan menguntungkan satu sama lain,” demikian tandas Fuadi, dengan nada kecewa terhadap sistem yang dilaksanakan investor penampungan hasil bumi masyarakat setempat .

Tarmizi Abdul Gani, pemilik kursi jabatan posisi Kepala Humas PT BAS Cot Bate Geuluengkue Bireuen saat ditanyai media ini terkait keterangan sejumlah agen pamasok bahan baku buah kelapa kepada Perusahan andalan eksportir ke Negara Thailand, Bangkok Minggu malam 10 September 2017 via ponselnya menjawab kalau soal jual beli silakan dalami via Pak Azan, beliau merupakan  kepala urusan Pembelian di PT BAS.

Keterangan dari Pak Azan yang juga melalui sambungan selularnya memberikan keterangan, jika sela ini tanggungjawab yang diemban berkisar tentang mencari dan membuat hubungan erat dengan agen-agen pengumpul disejumlah kecamatan serta kabupaten tetangga untuk sudi memasok bahan baku ke PT BAS.

“Kuasa saya hanya sebatas menjelaskan harga beli dan mendampingi para agen mitra sampai pintu gerbang bangunan pabrik. Sementara kisah selanjutnya sampai selesai proses jual-beli itu berlangsung dengan pihak management PT BAS. Jadi secara detail saya juga tidak tau pasti alasan para agen mitra saya itu enggan melanjutkan penjualan barangnya ke perusahan kami,” demikian dari Azan.

Yang pasti, dampak positif dari beroperasinya pabrik pengolahan bahan baku kelapa menjadi sabut, pupuk cocopeat, arang dan  kopra dan juga berencana mengolah minyak dan tepung kelapa yang diharapkan pada awal pendiriannya hasil evaluasi tahun pertama telah memberikan kesan sinis dan sangat tidak berdampak positif terhadap masyarakat petani kelapa di Kabupaten  Bireuen serta di Provinsi Aceh secara umum.

Meskipun yang mencuat kepermukaan dan terpaparkan public selama ini tentang keberadaan pabrik pengolahan berbahan baku kelapa di Cot Bate Geuluengkue Bireuen tersebut telah membuat masyarakat sekitar pantas berterimakasih, sebagaimana uraian yang sering dipaparkan dalam  setumpuk berita manis yang diduga sengaja dikelola secara bertahap oleh orang dalam. (Roesmady)

Pos terkait