Demi menyanjung Tim Akreditasi Kemenkes RI, Pengambil Kebijakan RSUD dr Fauziah Bireuen Bentang Sajadah Pengganti “Red Carpet”

Dengan hiasan bibir tersungging dan dihadapan ratusan pasang mata dari kalangan tenaga medis Tim survei akreditasi Rumahsakit Kementerian Kesehatan RI, menapaki sajadah sebagai pengganti “karpet merah” yang disiapkan oleh tim penerima tamu Rumah Sakit Umum dr Fauziah Kabupaten Bireuen Kamis 14 Desember 2017. Peristiwa yang dianggap melecehkan umat Islam ini mendapat kecaman serta kata sumpah serapah terhadap pejabat pemkab Bireuen terutama dari kalangan Ahli serta petugas medis.

BIREUEN | BN
Tiga orang Tim survei akreditasi rumahsakit Kementerian Kesehatan RI, tiba di Kabupaten Bireuen Rabu 13 Desember 2017. Mereka akan berada di Kabupaten Bireuen, Propinsi Aceh  melaksanakan tugasnya selama tiga hari yakni sampai hari Sabtu 16 Desember 2017.

Sebelum memulai tugas utamanya Tim yang terdiri dari dr Firdaus Sai Sohar SP Red (K) SP Kes, Christian Theresa Sinaga SKP M Kep dan drg Ricky Marcello Rasyid MARS dimuliakan oleh pejabat Pemkab Bireuen pada Rabu malam dimulia sekira pukul 20.00 WIB dengan gelar acara temu ramah bersama Bupati Saifannur,  Wakil Bupati Muzakkar, Kepala SKPK serta para undangan dari unsur dan kalangan  lainnya didalam pekarangan  Pendopo Bupati setempat.

Begitulah kebiasaannya cara dan system Pejabat Daerah Bireuen menerima dan memuliakan tamunya yang dating dari berbagai pelosok, tidak ada pengecualian bagi pejabat tingkat pusat. Suasana pertemuan yang memakan masa hingga pukul 23.00 Wib malam itu berlangsung sukses dan penuh keakraban. Tak ketinggalan selipan canda tawa dari kata kelakar uraian kata sambutan Bupati Bireuen H Saifannur yang menyapa tiga tamu tersebut dengan ucapan tiga bahasa daerah, Sumatra Barat, Tanah Deli dan Jawa.

Bacaan Lainnya

Direktur RSUD Bireuen, dr Mukhtar MARS mengatakan, tim turun ke rumah sakit selama tiga hari yaitu Kamis, Jumat dan Sabtu untuk melihat dan menilai secara dekat RSUD Bireuen.Dikatakan, ada 15 pokja penilaian mulai dari manajemen sampai kepada lingkungan rumah sakit dan berbagai item penilaian lainnya secara menyeluruh termasuk sasaran bidang keselamatan pasien..

Namun semeriah apapun suasana  yang berlangsung pada malam harinya saat pertemuan awal dengan Tim tamu Jakarta itu pupus dan malah berbalik menjadi Aib ketika siang harinya  Tim survei akreditasi rumahsakit Kementerian Kesehatan RI mengawali tugas utamanya di Rumah Sakit Umum Daerah RSUD dr Fauziah Bireuen Kamis 14 Desember 2017.

Peristiwa aneh dan memalukan sekaligus dinilai banyak pihak telah melecehkan kepercayaan umat muslim berlaku mulus. Panitia Penerima Tamu dari kalangan pegawai Rumah Sakit setempat sengaja mempersiapkan bentangan sajadah shalat bergambar mesjid untuk lajur arah mempersilahkan tamuny

Tak ubah seibarat para penyanjung tetamu yang biasanya menyediakan karpet merah  (Red Carpet) yang biasanya digunakan untuk menggambarkan situasi dimana sebuah karpet merah panjang dan besar digelar untuk menghormati dan menyambut para undangan yang datang ke acara itu. Biasanya acara yang menggunakan red carpet jenisnya formal dan dihadiri para tamutamu VIP.

Kejadian dari perangai ala Rumah Sakit Umum dr Fauziah itupun spontan mendapat hadiah kecaman dari berbagai kalangan baik secara langsung atau lisan maupun via medsos dumay semacam Facebook, WAPSS dan Istagram. Banyak kalangan yang mengutuk pihak Rumah Sakit Kebanggaan Masyarakat Bireuen tersebut dengan kejadian yang dinilai mustahil diluar kesengajaan itu.

Apalagi Kejadian menggunakan Sajadah untuk penghormatan tamu di Acara Akreditasi RSUD Dr Fauziah Bireuen Untuk Alas Sepatu tersebut justru diperagakan oleh pejabat-pejabat medis di Kabupaten Yang santer disuarakan dengan nama Kabupaten “Religius” alias Kota Santri Bireuen.

Entah apa yang terbersit dalam pikiran sang penerima tamu akreditasi sehingga bertingkah sangat melampau jika dinilai dari segi agama. Apalagi saat prosesi penyambutan tim berlangsung juga diramaikan oleh lebih sertus para ahli  tenaga medis yang melingkar membentuk barisan seibarat apel rutin senin. Alangkah mustahil kiranya jika hal itu dibenarkan karena kelupaan, karena manusia yang terlibat dalam barisan seagama dan sebanyak itu jumlahnya.

Ataukan rata-rata ahli serta perawat Rumahsakit Umum dr Fauziah Bireuen memang sudah terkena wabah penyakit Lupa, hanya terpaku dengan bibir ikut tersungging menyaksikan sarana tempat shalatnya diinjak denga alas kaki didepan matanya sendiri..? Entahlah, meskipun memang ada penyakit lupa atau disebut Dimensia atawa Penyakit Alzheimer yang sering hinggap pada makhluk manusia, namun tidak masuk akal jika kejadiannya serentak terjangkit gejala yang sama dalam waktu bersamaan.

Menurut penjelasan ilmu kedokteran, Penyakit Alzheimer merupakan suatu penyakit lupa atau dimensia yang banyak terjadi dan gejala awalnya ditandai dengan daya ingat semakin melemah,  Biasanya pada tahap awal lupa dengan hal-hal kecil seperti lupa nama benda dan tempat, kemudian suka tersesat, walaupun berada di lingkungan sendiri.

Tak ada yang member keterangan alasan kenapa semua hal memalukan serta kaitannya dengan pelecehan sarana tempat ibadah tersebut disengajakan terjadi ataupun kesilapan murni. Begitupun  terkait dengan adanya statemen Gubernur Aceh Irwandi Yusuf beberapa saat usai melakukan Pelantikan Terhadap Bupati Bireuen H Saifannur dan Wakilnya Muzakkar awal Agustus lalu, yang menyatakan bahwa “Perjuangan H Saifannur Menjadi Bupati Sama dengan Perjuangan Peresiden AS Donal Trump”, juga tidak kaitan sama sekali karena saat itu sang Gubernur pun mengatakan hal tersebut dengan intonasi setengah kelakar. (Roesmady)

Pos terkait