BIREUEN | BN – Untuk meraih target utama yaitu menyelamat dan merenovasi kembali bangunan bersejarah berupa rumah adat Aceh di Kota Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen pemuda peduli daerah yang tergabung dalam wadah “Gerakan Peuseulamat Rumouh Aceh Samalanga (GPRS) kembali duduk rembuk membahas langkah lanjut yang akan mereka ayunkan bersama-sama dengan pihak muspika dan tokoh masyarakat setempat hingga sampai kepada tujuan dasar.
Belasan pemuda aktif dari sepuran Kota kecamatan “Kota Santri” Samalanga sejak usai waktu shalat Insya terlihat bergerak menuju satu titik lokasi meeting yang sudah ditetapkan yakni di Lantai II Bangunan Jajanan Caffee dan Kuliner “Reuluey Mangat” Caffee lintas jalan ke Kemukiman Tanjongan Kawasan Desa Gampong Baro , Kecamatan Samalanga Bireuen Sabtu 8 Juli 2017, mulai pukul 20.30 Wib.
Sumber dari Ketua Harian Pengurus GPRS Mirza Putra Samalanga dan sosok mediator utama acara Habibi Aksury kepada Bongkar News terkait kesimpulan temu rembuk para pengurus GPRS seusai meeting menyatakan, jika tekat dasar dari pemuda yang tergabung dalam kepengururusan masih komit dan penuh semangat.
Langkah mediasi yang terkesan agak mereda sebelumnya adalah seiring dengan menikmati suasana hari raya Idul Fitri bagi anggota pengurus masing-masing. “ Yang Pasti dengan segala upaya kami pengurus GPRS bersama muspika serta tokoh dari berbagai unsur setempat tetap meraih tekat utama agar bagunan rumah adat Khas Aceh di jantung Kota Samalanga yang rawan ambruk itu mesti ada jalan untuk diselamatkan serta dipugar cantik dan utuh kembali,” tutur Mirza, yang disetujui Habibi.
Diuraikan, hasil dari pelaksanaan meeting duduk rembuk dilantai II Bangunan Jualan Caffee dan Kuliner Reuluey Mangat antara lainnya, dalam waktu dekat pengurus GPRS akan bergerak ke lokasi bangunan Rumah Aceh Samalanga bersama dengan Muspika sembari melakukan pemasangan baliho dukungan positif muspika terhadap gerakan positif pemumuda peduli daerah yang tergabung dalam wadah GPRS.
Catatan yang sepakat digarisbawahi lainnya adalah membatalkan waktu rencana awal program seminar dan diskusi bertajuk ‘Cikal-Bakal Adanya Beragam Situs Bersejarah di Samalanga,” yang sebelumnya dijadwalkan pada tanggal 14 Juli 2017 dan akan didukung sejumlah sosok ahli sejarah Aceh, akan dicanangkankan waktu kemudian setelah upaya dasar yang sedang dilakukan oleh pengurus GPRS menyangkut penyelamatan Rumah adat Aceh di Samalanga mendapat dukungan sepenuhnya dari semua pihak. (Roesmady)





