Wow...Buku 'Idaman' Masih Terutang !! - Bongkarnews

Sitename

Description your site...

Wow…Buku ‘Idaman’ Masih Terutang !!

Wow…Buku ‘Idaman’ Masih Terutang !!




Liputan : Uden / H Munir.  (Foto : LSM BCW Gito Affandy)

BINJAI | Bongkarnews.com – Tahun Ajaran (TA) 2011-2012 Binjai membuat gebrakan. Adalah buku Idaman yang diplesetkan nama sang Walikota Binjai itu masuk lembar kerja siswa (LKS). Buku tersebut merupakan suatu keharusan dimiliki oleh pihak sekolah.

Telah enam tahun bergulir hingga 2018 ini, ternyata masih ada sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang mengambang. Ya, salah satunya menyangkut soal utang piutang alias biaya cetak buku ‘Idaman’.

Kembali menguap ke permukaan baru-baru ini, rupanya kasus buku ‘Idaman’ mangkrak di Polres Binjai. Apalagi setelah mendengar pergantian Kadis Dikjar, oknum produsen Buku pelajaran merek Binjai Idaman (BBI) beberapa waktu lalu sempat didatangi Kadis Dikjar.

Maksudnya tak lain untuk menagih utang yang belum dibayar oleh kepala sekolah. Disebut-sebut, oknum itu membawa oknum Kejaksaan.

Dalih oknum ini mendapat backup dari oknum tertentu sebagaimana yang dilansir melalui facebook, bahwa utang buku yang sudah dipesan harus dibayar, jangan karena LSM ribut pembayaran jadi terkendala. Dan kalau ada yang tidak senang silahkan yang penting selesaikan.

Pandangan itu spontan mendapat tanggapan dari pelapor BBI Gito Affandy yang mengklaim bahwa kasus BBI masih mangkrak di Polres Binjai tidak kurang dari tujuh tahun. Dan persoalan ini tidak bisa dilihat dari sepotong-sepotong karena uang yang untuk membayar buku adalah dana APBN (Sektor BOS). Ini ada mekanismenya.

Kalau order barang pribadi, jiika sudah teken order masuk barang ya wajib bayar. Kalau buku Binjai Idaman, lihat bagaimana legalitas pesanannya, dan bagaimana proses pencetaknya, ada ijin cetak dan siapa penerbitnya. Ada ijin terbitnya apa tidak. Dan bagaimana pula kerugian negara tentang PPh atas produksi itu?

Dijelaskan bahwa buku itu buku gundul tanpa identitas penerbit dan penanggung jawab dan sebagainya. Bahkan alamat penerbit pun tidak ada. Buku itu hanya bermodal sampul Buku Binjai Idaman dengan logo Pemko Binjai. “Logo inilah yang membuat para kepala sekolah tidak berdaya untuk menolak atau melawan saat pihak penerbit mendatangi Kepala sekoolah membawa order pesanan buku. Ini salah satu fakta yag patut dicermati,” sebut Gito.

Lagian, kata dia, kalau benar oknum produsen dibackup oknum Pidsus Kejari Binjai, ini patut menjadi perhatian semua kalangan pemerhati khususnya praktisi Hukum di Binjai ini. Kecuali Kejari Binjai memanggil pihak Dinas berdasarkan laporan produsen.

“Itu pun dilihat dululah apa yang dilaporkan dan bagaimana dasar hukumnya. Sebab, ini persoalan sara pendidikan sekolah pemerintah dan bukan jual beli pribadi,” tukasnya.

Sekedar mengingatkan, kasus buku sekolah Binjai Idaman, penyidik Tipikor Polres Binjai sudah membuat klarifikasi kepada semua pihak terkait. Sudah banyak kepala sekolah memenuhi undangan penyidik untuk diambil keterangan termasuk K3.S, Ka UPT, Kadis Dikjar dan jajarannya, termasuk produsen dan lainnya.

Semua sudah diambil keterangan dalam proses pulbaket. Melihat dari berita acara Pulbaket, para terundang apalagi produsen, inklutnya sudah jelas dan terurai siapa aktor atau inisiator dan pihak yang paling menikmati uang hasil penjualan buku itu.

Memang, untuk cetakan kedua, tidak semua terjual, buku ada yang numpuk disekolah karena sudah naik kasus. Soal kenapa perkara itu belum duduk, itu SOP Penyidik bukan wewenang pelapor. Yang jelas, pihak yang sudah diambil keterangannya banyak yang menjerit.

“Dan pernah saat perkara itu kita tagih, Kadis Dikjar dan seorang Kabid mengundang kita dan bertanya. Saat itu diakatakan sesuai kita dapat isinya ‘Abg apa belum diamankan, kok kata oknum itu abang naikkan kasus ini lagi,” sebut Gito.

“Mendengar itu saya spontan mencak,” tuturnya. “Oknum yang dimaksud Kabid tadi akan saya bel, tetapi Kabid itu melarangnya, namun saya tegaskan kepada Kadis Dikjar (mantan-red), saya tidak pernah naikkan kasus itu lagi, yang saya lakukan menagih ke Polres Binjai sampai ke Polda, bahkan Mabes Polri,” sahutnya.

Jadi, kata Gito, kalau dirinya dibilang kasusnya dinaikkan lagi, jelas omongan si oknum Polres adalah itu bohong besar.

“Jangan orang yang kenyang saya dijual jadi tumbal. Sampai kapanpun perkara ini saya kejar. Bapak kan tau, legalitas cetak dan penjualan tak jelas, sampul pake logo Pemko Binjai, kok walikota gak keberatan sih? dikonfirmasi wartawan malah buang ke Dikjar. Ada apa ini,” ulang Gito

Satu hal lagi yang menjadi catatan LSM BCW dalam hal Pulbaket status buku sepertinya berubah. Dari buku mata pelajaran menjadi buku Lembar Kerja Siswa (LKS). Bahkan,. Dalam keterangannya (Pulbaket), Kadis Dwi Anang Wibowo sudah menyatakan bahwa dirinya tidak tau apa-apa dan tidak dilibatkan.

“Jadi setelah ganti Kadis, oknum produsen mulai menagih pakai backing pula itu, ular cari pukul itu,” tegas Gito.

example banner