Sejak Klaim Asset TNI, Rumah Aceh di Samalanga Tak Terurus Layaknya Rumah Hantu

Beginilah sudah pemandangan Bangunan Rumah Adat Aceh di Pinggiran Kota Kecamatan Samalanga, Bireuen. Sejak adanya Klaim asset tersebut miliknya TNI tak ada pihak yang memugar dan melestarikannya lagi, malah kini terlihat semakin seram layaknya bangunan rumah hantu di Film-Film.

BIREUEN | BN – Persatuan Kaum Muda Peduli Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen menyatukan sikap untuk mempertanyakan serta meluruskan legalitas kepemilikan lahan yang terdapat bangunan situs sejarah berupa Rumah adat khas Aceh. Pasalnya, kondisi rumah khas bangsa aceh di Kota Samalanga tersebut kini kondisi semakin tak terurus, memprihatinkan terkesan seram seperti rumah hantu.

Kondisi bangunan situs sejarah yang berada dilintasan jalan utama pinggiran kota Kecamatan kota “santri” Samalanga tersebut  saat ini selain tiada sarana pagar batas lahan, sarana kelengkapan seperti jendela, sebagian papan anak tangga serta kondisi atap yang terpasang dari daun rumbia juga sudah bolong-bolong, sehingga berimbas terhadap lapuknya papan lantai akibat rutin tersiram air kala hujan tiba.

Informasi yang dihimpun Bongkar News dari sejumlah warga kecamatan ujung barat Kabupaten Bireuen itu mengungkapkan, bangunan yang layaknya dilestarikan oleh pihak terkait itu terbengkalai sejak sekitar 10 tahun silam. Sebelumnya, pihak Pemda Bireuen rutin mengarahkan dana rehabilitasi untuk melestarikan rumah aceh Samalanga.

Namun sejak pihak TNI melalui Danramil Samalanga menegaskan bahwa lahan dan bangunan kebanggaan warga tersebut merupakan asset milik TNI maka pihak pejabat kebudayaan Pemda Bireuen pun tidak lagi berani menaruh perhatian apalagi untuk berbuat banyak terhadap kondisi yang berkembang.

Menurut kabar, klaim tanah ini milik TNI yang diproklamirkan saat itu oleh Danramil sembari meminta seorang rekanan proyek APBK yang sedang melaksanakan pembangunan pagar lahan rumah aceh Samalanga untuk spontan menghentikan aktifitasnya. “Ketika itulah berawal Rumah adat Aceh Samalanga tak ada lagi pihak yang mengurus,” ujar seorang tokoh kecamatan setempat.

Akibat kondisi bangunan bersejarah tersebut semakin jauh dari pelestariannya, serta berkiblat dari kondisi sebelum adanya klaim milik pribadi pihak TNI bangunan tersebut masih lumayan sedap dipandang mata, maka komunitas pemuda peduli Samalanga bersama unsure ulama dan tokoh setempat berinisiatif mengangkat kepermukaan persoalan asset situs sejarah yang tidak dimiliki oleh setiap kecamatan itu.

Beragam pendapat merebak tentang kepemilikan lahan bangunan rumah adat Aceh Samalanga. Malah ada yang menyatakan jika lahan yang awalnya merupakan bagian milik petinggi TNI Alm Panglima Hamzah sudah sudah dihibahkan kepada masyarakat Samalanga melalui satu wadah Koperasi.

Meskipun demikian, klaim pihak TNI adalah harta miliknya membuat pihak lain terhambat untuk mengambil sikap peduli, hingga menjadi berselemak seperti sekarang ini. Begitupun, Staf Bagian Asset Makodim 0111 Bireuen yang pernah dipertanyakan Bongkar News beberapa waktu lalu mengaku soal asset TNI lebih lengkapnya dipertanyakan melalui bidangnya di Makorem Lilawangsa Lhokseumawe.

Informasi lainnya dari kalangan pejabat Dinas Pendidikan dan kebudayaan Bireuen menguraikan, sebelum pihak TNI mempertegas bahwa asset bersangkutan merupakan milik pribadinya disertai tulisan pada panplet pajangan rumah adat tersebut adalah salah satu bangunan situs sejarah yang setiap tahun anggarannya rutin diayomi oleh pemda Bireuen, sementara satu rumah adat aceh lagi berada di Awee Geutah Kecamatan Peusangan Siblah Krueng yang masih dalam perhatian pemerintah daerah.

Dikabarkan pula, bahwa pemda Bireuen jauh-jauh hari telah membuat perencanaan pelestarian terhadap rumah Aceh di Samalanga dengan melengkapi sarana-prasarana khas Aceh sampai layak dijadikan sebagai tempat rekreasi lokal bagi warga sekitar.

Pemuda Cerdas Peduli Daerah Zamroni M Thaeb asal Samalanga, karena rasa memiliki dan rasa keprihatinannya  yang kini berada diperantauan sangat pro aktif menggarap komunitas untuk kembali memugar rumah adat aceh didaerahnya. Lepasan Politeknik Lhokseumawe ini malah aktif menjalin  persatuan serta mengangkat isu kemajuan daerahnya bersama rekan-rekan sedaerah melalui dunia maya semacam Istagram dan FB.

Dengan suara bulat tekat mereka mengembalikan kejayaan serta keindahan Kota Kecamatan Kelahirannya dengan inisiatif mendapat kejelasan dari pihak-pihak terkait dan tau pasti menyangkut legalitas sebenarnya terkait Rumah Aceh di Samalanga.

“Jikapun lahan dan bangunan rumah aceh tersebut benar miliknya TNI, seyogiaya dilakukan perawatan, jangan dibiarkan sampai terkesan seperti rumah hantu seperti terlihat sekarang, setidaknya demi mendukung aura keindahan kota kecamatan,” demikian harap seorang tokoh pendidikan setempat yang enggan namanya dipaparkan karena gentar kepada oknum TNI terutama yang ngotot mengiklankan “Tanah Ini Milik TNI”. (Roesmady)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *