Pengurus Asrama FOBA Resah Pasca Ahok Makan Kenduri Maulid

Jakarta I BN-Ketua Umum Garda Teuku Umar, Zulfikar Zakaria menyayangkan adanya ancaman dan terror yang dialamatkan kepada sejumlah Pengurus Fund Oentoek Bantoean Atjeh (FOBA) terkait kedatangan terdakwa penista agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Minggu 5 Maret 2017 kemarin. Zulfikar mengajak warga Aceh baik yang berada di Jabodetabek, maupun di Aceh sendiri unntuk melihat persoalan ini secara konprehensif.

“Tentu sangat tidak tepat menjadikan para pengurus FOBA sebagai sasaran kemarahan public. Karena setelah kami melakukan advokasi bersama stakeholder masyarakat Aceh lainnya di Jakarta, ternyata kehadiran Ahok dipicu kepentingan politik sejum lah oknum lainnya, di luar FOBA, yang menghendaki dukungan massal dari warga Aceh di Jakarta untuk kemenangan Ahok di putaran kedua,” jelas Zulfikar, Selasa 14 Maret 2017.

Masih menurut pria yang akrab disapa Bang Jol, sejauh ini bentuk ancaman dan intimidasi yang diterima pengurus masih berupa pesan-pesan verbal yang dikirim melalui jejaring social, telepon, maupun pesan singkat. Awalnya, pesan-pesan tersebut dinilai sebagai bentuk kemarahan sesaat. Hanya saja, ancaman dan intimidasi yang datang terus terjadi secara simultan sampai saat ini. Dia mengkhawatirkan, ancaman tersebut dapat mengganggu psikologi dan konsentrasi para pengurus, mengingat para Pengurus FOBA sedang menyelesaikan studi di berbagai perguruan tinggi.

Karena itu pula, Garda Teuku Umar mengajak seluruh elemen warga Aceh baik yang berada di Jabodetabek, maupun di Aceh sendiri untuk membantu klarifikasi kepada pihak-pihak yang masih menyimpan amarah terkait insiden ini.

“Karena sesungguhnya sumber masalah bukan Pengurus FOBA. Bahwa memang ada undangan resmi untuk Gubernur DKI, itu merupakan standar administrasi kegiatan FOBA. Formalitas aja. Tapi kemudian dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk mempromosikan Ahok. Mereka lupa tempat dan waktu. Dan mereka tidak mengindahkan jika kemudian para mahasiswa ini jadi korban justifikasi publik,” tukas Bang Jol yang juga praktisi hukum.

Akan hal kasus ini sendiri, Garda Teuku Umar bersama sejumlah stakeholder Aceh lainnya berkomitmen untuk membuka aktor-aktor dibalik kehadiran Ahok ke Asrama FOBA secara terbuka. Upaya ini dilakukan untuk menghindari ancaman yang lebih besar yang akan diterima oleh para Pengurus FOBA. Dalam posesnya, para pihak masih melakukan upaya konfirmasi dan klarifikasi terhadap pihak-pihak yang ditengarai memanfaatkan momentum maulid tersebut untuk kepentingan politik. Diperkirakannya, hasil advokasi akan berakhir minggu ini.

“Insya Allah minggu ini selesai. Semoga benar-benar jadi pelajaran,” pintanya.

Di akhir pertemuan Zulfikar menyebutkan, keterlibatan masyarakat Aceh dalam perhelatan Pilkada dinilai

sebuah langkah maju dan progresif. Hal itu menunjukkan betapa warga Aceh di perantauan mampu mewarnai dunia politik di ibukota. Hanya saja, rambu-rambu dan etika politik juga mesti dipenuhi.

“Boleh berpolitik, tapi jangan sampai mengorbankan saudara sendiri. Boleh memanfaatkan jaringan stakeholder masyarakat, tapi jangan sampai merusak nama baik staholder itu sendiri. Sekarang, FOBA jadi bulan-bulanan public,” tutupnya sembari berharap. [r]