MATARAM |BONGKARNEWS – Genderang keberangkatan ibadah haji tahun 1447 Hijriah atau 2026 Masehi mulai ditabuh. Di tengah kesibukan Kementerian Agama (Kemenag) mematangkan logistik dan pemeriksaan kesehatan, sebuah kisah inspiratif datang dari Bumi Seribu Masjid, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Pasangan suami istri, Amaq Darwis (62) dan Inaq Sumi (58), warga desa terpencil di kaki Gunung Rinjani, dipastikan masuk dalam daftar jemaah yang berangkat pada kloter pertama tahun ini. Bukan pengusaha besar atau pejabat, keduanya hanyalah penjual gula aren tradisional yang berhasil mengumpulkan rupiah demi rupiah selama lebih dari 25 tahun.
Menabung dari “Tetesan Nira”
Setiap harinya, Amaq Darwis memanjat pohon enau untuk mengambil air nira, sementara Inaq Sumi mengolahnya di tungku kayu bakar menjadi cetakan gula aren. Dari keuntungan yang tak seberapa—terkadang hanya Rp20.000 hingga Rp50.000 per hari—mereka menyisihkan sebagian besar uangnya ke dalam celengan bambu sebelum akhirnya dipindahkan ke bank haji.
“Kami tidak punya sawah luas, hanya punya niat. Setiap kali menjual gula, saya selalu berbisik dalam hati, ‘Ini uang untuk tamu Allah’. Alhamdulillah, hari yang kami tunggu selama puluhan tahun itu datang juga,” ujar Amaq Darwis dengan mata berkaca-kaca saat ditemui di kediamannya, Selasa (28/4/2026).
Persiapan Haji 2026 Kian Intensif
Secara nasional, persiapan haji tahun ini memang terpantau lebih awal dan intensif. Direktur Pelayanan Haji Dalam Negeri Kemenag menyatakan bahwa proses pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) telah mencapai 95%.
“Tahun ini fokus kami adalah ‘Haji Ramah Lansia’. Kami memastikan pendampingan medis dan fasilitas di Arab Saudi, terutama di Mina dan Arafah, jauh lebih siap dibanding tahun sebelumnya,” jelasnya.
Saat ini, para jemaah termasuk Amaq dan Inaq sedang menjalani tahap akhir manasik haji di tingkat kecamatan. Keberangkatan gelombang pertama rencananya akan mulai masuk asrama haji dalam beberapa pekan ke depan.
Kisah pasangan penjual gula aren ini menjadi pengingat bagi banyak calon jemaah lain bahwa panggilan ke Baitullah bukan soal seberapa besar penghasilan, melainkan soal keteguhan niat dan kesabaran dalam berikhtiar.
(In)





