Sitename

Description your site...

script type="text/javascript"> var uid = '184876'; var wid = '396385';

Jelmaan Jeumpa Itu Kini Dijuluki “Kabupaten Bireuen”

2837 KALI DIBACA
Jelmaan Jeumpa Itu Kini Dijuluki “Kabupaten Bireuen”
Bangunan Tugu Lingkar Simpang Empat, arah menuju Aceh Teungah, ke Banda Aceh, Medan dan jalan masuk menuju Pendopo Bupati Dan Bangunan gedung Pasar Raya yang kini dikenal dengan nama “Suzuya Supermarket”.

 

Cerita Bersambung  

Oleh :

-Roesmadi Ka Biro dan Wartawan Media BongkarNews Liputan Bireuen.

-Ketua DPC PPWI Bireuen Priode 2017 – 2022

 

BIREUEN | BN – Wilayah Kesatuan NKRI merupakan salah satu Negara gabungan dari 35 jumlah Provinsi  di kawasan Wilayah Asia Tenggara. Perubahan jumlah Provinsi menjadi angka 35 dari jumlah sebelumnya yang masih berjumlah 34 Provinsi, menyusul masuknya Provinsi terbaru di Kepulauan Papua yakni Hal ini menyusul setelah terdapat provinsi terbaru di Kepulauan Papua yaitu Provinsi Teluk Cendrawasih. Pernyataan ini dideklarasikan oleh Bupati Biak numfor di Serui.

Diwilayah ujung bagian Paling Barat terdapat Propinsi Aceh yang merupakan Gabungan dari 23 daerah pemerintahan tingkat II Kabupaten / Kota. Diantara 23 Kabupaten /Kota itu terdapatlah satu kecamatan pembantu atau cabang pemerintahan dari Kabupaten Aceh Utara yang dinamai Kecamatan Jeumpa.

Dan Dari kebijakan terkini Pemerintah Indonesia membuka krant pemekaran daerah yang mendukung sehingga persiapan ADM oleh tokoh-tokoh setempat maka dari bagian Timur Kawasan Krueng Mane Kecamatan Gandapura tercomotlah luas area Aceh Utara untuk dinobatkan sebagai Kabupaten Baru sampai batas Kabupaten Pidie Jaya arah barat yaitu kawasan Bate Ie Like Kecamatan Samalanga.

Terbagi dari 17 jumlah Kecamatan, Bireuen menjadi wilayah otonom sejak Oktober Tahun 1999 sebagai hasil dari Pemekaran Kabupaten Aceh Utara. Hingga Tahun 2017, Kabupaten Bireuen telah dipoles oleh lima tokoh pakar pemerintahan, termasuk Drs H Hamdani Raden yang ditetapkan sebaghai pilihan  pemerintahan pusat (Mendagri) yang mengawali awal terbentuknya pada tahun 1999 – 2002.

Sedangkan Sebagai pasangan Bupati Perdana Otonom Priode 2002 – Yang memenangkan pertarungan kandidat masih dengan sistem pemilihan Suksesi DPRD  yaitu Drs. H. Mustafa A. Glanggang dengan Wakil Bupatinya H Amiruddin Idris , SE, M.Si.

Disusul Bupati Bireuen otonom ke tiga Drs. H. Nurdin Abdurrahman, M.Si berpasangan dengan Busmadar Ismail Priode 2007 – 2012, kemudian kandidat H. Ruslan M. Daud –  Ir. H. Mukhtar Abda, M.Si dan dilanjutkan oleh  Bupati terpilih dalam pilkadasung awal 2017 sampai tahun 2022 mendatang nanti adalah  H Saifannur SSos yang berpasangan dengan sosok tokoh Birokrat Pemerintahan Aceh yaitu  H Muzakkar.

Dari empat kali pegelaran pesta pilkada untuk menentukan pimpinan daerah Kabupaten Bireuen. Dari Pesta Suksesi Perdana bertepatan dengan kondisi daerah Aceh yang masih tersisa konflik keamanan Tahun 2002 peristiwa perjalanan pesta suksesi pun berlangsung sedikit keruh.

Meskipun sempat dead lock dan terjadi penentuan ulang akibat protes kubu Mustafa A Geulanggang, Begitu juga dengan sempat mencuat isu permainan “koboy” dengan tindakan yang konon sempat terjadi penyanderaan terhadap  seorang oknum anggota dewan dan memaksa menentukan pilihan berbalik untuk dijadikan modal kemenangan jumlah suara, akhirnya hasil terbalik pun dianggap sah dengan kemenangan pasangan Drs Mustafa A Geulanggang dan Amiruddin Idris.

Dibawah kebijakan pimpinan pemerintahan Mustafa A Geulanggang yang berkalaborasi dengan sosok almamater sebaghai wakil, pembangunan Kabupaten Bireuen mulai berdetak. Suasana keamanan yang mulai masuk masa lancip  bersambut dengan program rehabilitasi pemerintah pusat dengan mengucurkan anggaran pemulihan mental masyarakat Aceh masa konflik dalam segala line.

Faktor pendukung utama untuk berbuat positif bagi Bupati Mustafa dan Amiruddin Idris pun kian terasa “Creeng” berbanding masa pemimpin Hamdani Raden. Masyarakat Bireuen umumnya memilih apatis dengan sumber dana dari Kucuran anggaran pemulihan mental serta merenovasi sejumlah bangunan rusak dan telah tiada akibat dibakar pihak tertentu dimasa konflik.

Pasalnya, gairah membangun pasca cerai dengan induknya Aceh Utara pada tahun 1999 yang diperagakan Bupati Mustafa A Geulanggang saat itu adalah tergolong awal action membangun daerah dan memang sedang sangat dinanti-nanti  masyarakat se-Kabupaten Bireuen.

Masyarakat se Kabupaten Bireuen baru tersadar ternyata birahi membangun yang dinampakkan pimpinan Kabupaten saat itu berbarengan dengan upaya membuat remang-remang sumber dan jumlah anggaran yang dikucurkan pusat.

Perlakuan negative pengambil kebijakan utama pemerintahan Bireuen kian terbentang dihadapan mata public menyusul audit anggaran tahunan oleh pihak BPKP Propinsi dan Pusat, hingga  menyatakan kalau Bupati Bireuen tersandung penyalahgunaan wewenang dengan menikmati kekayaan daerah untuk kepentingan pribadi plus sejumlah sejawat akrabnya yang kemudian tenar dengan nama Kasus Korupsi Berlabel “Kas Bon”.

Akibat imbas dari noda kasus kas bon itu pula Mustafa A Geulanggang menjadi rapuh memenangi kembali kali kedua pesta pilkada ala pilsung melawan seteru berat pasangan usungan partai local PA yang masih galak-galaknya pada  priode berikutnya tahun 2007 – 2012 nyakni Nurdin A Rahman – Busmadar Ismail.

Peralihan nakhoda dari Mustafa kepada Nurdin A Rahman ternyata membuat semangat membangun daerah dinilai warga kembali menurun dan melempem. Bupati Nurdin lebih cendrung mengmbil kebijakan kesan penuh “Religius” dan menggunakan anggaran apaadanya tanpa memiliki inisiatif memancing birahi sumber untuk mendapat prioritas anggaran pembangunan.

Walau sistem penerapan kebijakan dalam memimpin terlihat “Clean Government” namun dipenghujung kuasa beliau Nurdin juga tersandung kasus Tipikor uang Negara yang tidak bisa diperetanggungjawabkan. Akibat dari perlakuannya tersebut Status Narapidana Tipikor pun sempat disandang Nurdin A Rahman karena kebijakan melenceng dalam penggunaan uang Negara.

Mempertahankan kedikjayaannya Partai PA yang sadar diri kalau Nurdin A Rahman sudah down nilai tawar dalam ingatan public Petinggi Partai Aceh DPW Bireuen kemudian mengganti calon jagoannya untuk berlaga dalam pesta Pilkada untuk  priode 2012 – 2017.

Beruntung, jumlah suara terhadap sosok pemimpin usungan partai local yang sedang digandrungi masyarakat Aceh saat itu pun mengemuka tiada lawan. Sosok jempolan usungan partai khas warna merah yang memiliki latar belakang pengusaha sukses barang kedai runcit dinegara tetangga Malaysia yang bernama H Ruslan M Daud itupun dilantik sebagai kepala daerah Kabupaten Bireuen untuk priode 2012 – 2017.

Ia bersama pasangannya Mukhtar Abda berhasil memenangkan Pesta Pilkada 2012, dengan hasil rekapitulasi penghitungan suara yang ditetapkan dalam rapat pleno Komisi Independen Pemilihan di Aula Hotel Djarwal Bireuen. Pasangan berakronim “Harus Muda” ini tampil sebagai pemenang Pilkada Bireuen 2012. Pasangan usungan  Partai Aceh (PA) ini meraup 87.891 suara warga Bireuen.

Perolehan ini mengalahkan dua calon lainnya yaitu Amiruddin Idris-Muhammad Arif yang mengumpulkan 35.695 suara. Disusul pasangan Saifuddin Muhammad-Rosnani Bahruny sebanyak 19.190 suara. Menurut Ketua KIP Bireuen, Alibasyah Puteh SP saat itu mengatakan, total jumlah perolehan suara tersebut berasal dari jumlah suara yang sah mencapai 189.596 suara, sedangkan suara tidak sah sebanyak 3.904 suara. (Roesmady)….Bersambung.

script type="text/javascript"> var uid = '184876'; var wid = '396385';
script type="text/javascript"> var uid = '184876'; var wid = '396385';