BIREUEN | BN –Kabupaten Bireuen dikabarkan kesulitan mencari lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sejak ditutupnya akses pembuangan sampah di Desa Cot Buket, Kecamatan Peusangan dan Blang Beururu, Kecamatan Peudada, akhirnya Desa Geulanggang Gampong (Cureh), Kecamatan Kota Juang menjadi sararan terakhir sebagai Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS).
Keterangan yang diperoleh Bongkarnews menyebutkan Pemkab Bireuen sekarang ini kesulitan membuang sampah yang sudah menumpuk di truk pengangkut sampah, sejak TPA di Cot Buket dan Blang Beururu menolak desanya dijadikan TPA. Penolakan warga di dua desa dalam kecamatan tersebut, menyusul Pemkab Bireuen yang dinilai ingkar janji untuk membangun jalan di dua desa itu.
Menghadapi kendala tersebut, pihak Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bireuen melakukan lobbi-lobbi ke sejumlah Desa di Kabupaten Itu. Namun, akhirnya warga Cureh menyatakan bersedia desanya dijadikan TPS atau untuk batas waktu sementara sampai Pemkab Bireuen, mencari penyelesaian di dua desa yang menolak itu.
Kadis Perumahan Rakyat KPLH Kabupaten Bireuen, Ismunandar, ST, MT yang ditemui media ini, di Paya Sentiwan Cureh Bireuen, Sabtu (16/9) mengakui, jika pihaknya menjadikan Paya Sentiwan, Cureh, Bireuen sebagai TPS untuk sementara Waktu. Perangkat Desa hanya memberikan batas waktu tiga hari yang menyediakan lahan di Paya Sentiwan sebagai tempat pembungan sampah, yang sekarang ini sudah menumpuk dalam truk-truk milik Dinas PRKPLH.
Untuk itu, pihaknya sudah membenahi jalan yang menuju ke lokasi Paya Sentiwan, dengan menurunkan
alat berat, seperti Buldozer, Becho dan Compak yang sampai Sabtu sudah rampung dikerjakan yang diawasi langsung kepala dinas dimaksud. “Mudah-mudahan warga setempat memberikan toleransi melebihi janji yang disepakatii semula, karena kita masih melakukan lobbi ke Desa Cot Buket dan Blang Beruru mengingat asset Pemkab Bireuen cukup banyak di desa itu,” ucap Ismunandar seraya mengatakan sampah yang dibuang ke Paya Sentiwan akan ditutup kembali dengan tanah timbun, dengan mengunakan alat berat.
Kesedian warga Cureh menjadikan desanya sebagai TPS diapresiasi warga Bireuen, sementara desa lainnya menolak desanya di jadikan sasaran tempat Pembuangan Sampah untuk sementara waktu, maka muncullah Desa Geulanggang Gampong,, sebagai penyelamat. “Walau tidak seluruh warga menyetujuinya, dan hal itu wajar, akibat lalu lalang truk berisi sampah yang setidaknya pasti meninggalkan bau busuk,”ungkap sumber media ini.(Maimun Mirdaz)





