Bambang Anggota BCA Siak Lestarikan Dodol Berembang Khas Siak

example banner

SIAK (BN) -Jika berbicara tentang dodol, biasanya ingatan kita akan tertuju dengan dodol durian, dodol nenas, atau dodol nangka yang banyak beredar di pasaran. Namun pernahkah anda mendengar dodol berembang? Dodol jenis satu ini masih langka dan jarang terdengar dimancanegara, karena memang banyak orang yang belum mengetahuinya.

Bambang Bonari, warga Kampung Parit I/II Kecamatan Sungai Apit yang konsisten memperkenalkan jenis makanan berbahan baku buah berembang (Sonneratia caseolaris) melalui usaha sampingannya bersama sang istri. Dikediamannya ia membuka usaha kedai kopi yang menu utamanya dodol berembang ini. Setelah ditelusuri lebih lanjut Bambang mendapatkan pengetahuan pengolahan kuliner khas buah mangrove ini setelah bergabung dengan Bina Cinta Alam (BCA) Kabupaten Siak beberapa tahun lalu, dimana salah satu kegiatan LSM Peduli Lingkungan ini adalah melakukan pemulihan abrasi DAS Siak dengan penanaman tanaman mangrove termasuk di dalamnya pokok berembang. Setelah mengikuti Diklat Lanjutan dan dikukuhkan sebagai anggota Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) Kabupaten Siak oleh Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BDLHK) Pekanbaru, Bambang terketuk hatinya untuk melakukan kampanye lingkungan hidup dengan caranya tersendiri, yaitu membuat dan memasarkan dodol berembang. Lalu apa hubungannya Dodol Berembang dengan Kampanye Lingkungan Hidup itu?

“Saya cinta Siak ini Pak dan ingin berbuat untuk Siak seperti halnya kawan-kawan lain. Tapi apalah daya saya bukan orang besar yang bisa berbuat banyak untuk negeri. Sebagai orang yang peduli lingkungan saya prihatin melihat kondisi DAS Siak yang dibeberapa tempat mengalami abrasi dan kerusakan oleh perambahan manusia dan juga faktor alam. Padahal pohon berembang memiliki peran penting dan menjadi bagian kerafian lokal budaya Melayu tepian Siak. Karakter pohonnya yang rimbun melindungi tanaman padi (beras ladang) masayarakat tradisional Melayu Siak yang banyak bercocok tanam tak jauh dari DAS Siak. Akarnya adalah surga bagi hewan-hewan sungai seperti udang galah, lokan dan lain-lain untuk berkembang biak yang menjadi mata pencahaian khas nelayan tradisional Siak,”katanya panjang lebar saat ditemui bongkarnews.com Senin (16/1).

“Lalu akibat perkembangan zaman, pohon berembang banyak yang ditebang untuk kepentingan perembahan manusia dan lain-lain. Ini tentu mengancam ekosistem sungai Siak,”imbuhnya dengan prihatin.

Lanjut Bambang mengatakaan, sesuai bekal yang ia dapatkan di BCA dan PKSM Kabupaten Siak, ternyata untuk memanfaatkan hutan tidak harus dengan menebang, membabat, membakar  dan merusak pohonnya. Pada usaha konservasi, ada istilah pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

“Dari situlah saya mulai menggali potensi lain pohon berembang ini dengan membuat dodol, lalu mengenalkan dan memasarkannya. Apa yang saya lakukan itu merupakan bukti nyata kepada masyarakat bahwa memanfaatkan hasil hutan bisa dengan cara lebih bijak yaitu dengan mengolah buahnya. Ini bisa dilakukan oleh ibu-ibu rumah tangga disela-sela kesibukannya mengurus rumah sehingga kegiatan ini juga termasuk kepada pemberdayaan ekonomi kreatif yang digalakkkan Kabupaten Siak,”ungkapnya.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, jika masyarakat sudah tahu bahwa pohon berembang memiiki nilai ekonomis, masyarakat akan menjaga keberlangsungan habitat pohon berembang di lingkungan tempat tinggalnya, bahkan bukan hal yang mustahil masyarakat akan terketuk hatinya untuk menanam kembali titi-titik habitat berembang yang rusak. Itu tentunya sejalan dengan program Konservasi Kabupaten Siak, yaitu Siak Menuju Kabupaten Hijau.

“Terakhir, dodol berembang memiliki potensi untuk dipasarkan dan menjadi oleh-oleh khas Siak seperti halnya dodol nenas dari Bengkalis, Dodol Durian dari Pekanbaru dan Kampar, Dodol Garut dari Garut dan lain-lain. Saya yakin Siak akan menjadi dikenal sampai kesudut-sudut nusantara dengan dodol berembang khas Siak. Jika sudah kenal tentu akan banyak mengundang orang-orang diluar daerah yang ingin berkunjung ke Siak. Ini tentunya sejalan dengan program Siak sebagai destinasi tujuan wisata di Sumatera bahkan nasional. Jadi ibarat pribahasa sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui, maka dengan dodol berembang dua-tiga program vital kabupaten Siak otomatis didukungnya.” papar Bambang mengakhiri wawancara.

Sementara itu saat dimintai komentarnya, Ketua Bina Cinta Alam Kabupaten Siak Tarsono membenarkan kegiatan yang dilakukan anggotanya tersebut.

“Respon masyarakat Alhamdulillah sangat antusias mengenai dodol berembang ini. Bahkan baru-baru ini saya dan saudara Bambang Bonari dari BCA Kabupaten Siak diundang untuk memberikan pelatihan pembuatan dodol berembang oleh Ibu-Ibu PKK Kecamatan Pusako. Semoga kegiatan ini bisa menular ke masyarakat lain sehingga Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Secara Ketahanan Lingkungan bisa tercapai ke depannya untuk Siak yang lebih Cemerleng, Gemilang Dan Terbilang,”pungkas Tarsono.(Mg)

EPAPER BONGKARNEWS

Redaktur (ofice)

Berani Mengungkap, Lugas Membahas