Untuk Rehab Atap Bangunan Pasar Ikan Samalanga, Tak Harus Tunggu Dana Janji Jokowi

Beginilah berserakan dan semrautnya tempat perdagangan ikan di kota Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, sejak sebagian atap pelindung bangunan bagian teras bangunan runtuh jatuh akibat gempa bumi yang menimpa warga daerah Pidie jaya dan Bireuen beberapa waktu lalu.

BIREUEN | BN – Ucapan Janji Presiden Indonesia Joko Widodo, saat turun kelokasi korban Gempa Pidie Jaya dan Kecamatan Bagian Barat Kabupaten Bireuen akan tanggap dan menyuguhkan kepedulian rekontruksi terhadap masyarakat yang terimbas mulai dari bangunan tempat ibadah, perkantoran korban kehilangan nyawa anggota keluarganya hingga  korban bangunan pribadinya rusak berat dan ringan, hingga pertengahan Juli 2017, belum ada tanda-tanda teraplikasikan dilapangan.

Gempa Bumi berkekuatan 5,5 skala Richter Kamis dini hari, 16 Februari 2017 itu turut memporak poranda puluhan bangunan tempat ibadah, bangunan sekolah, serta tercatat kerusakan berat dan ringan terhadap rumah warga di Kecamatan ujung barat Kabupaten Bireuen.

Masyarakat yang terimbas dari musibah gempa bumi Pidie Jaya dan Kabupaten Bireuen sangat menaruh harapan dari apa yang telah diucapkan langsung oleh Orang nomor Satu Indonesia. Meskipun berkembang informasi kalau soal realisasinya hingga saat ini pejabat daerah terkait masih menyebutkan pihaknya masih sedangan melakukan verifikasi data actual.

Menariknya lagi tersebar informasi kalau di Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen rata – rata tingkat kerusakan sarana warga pernah dilakukan oleh SKPK relawan Pihak Dinsos, sampai-sampai banyak yang sudah terdata diminta menyiapkan rekening bank untuk persiapan transfer BLT yang akan terjadi sewaktu-waktu.

Sementara kabar berikutnya yang diperoleh Bongkar News menyatakan, jikapun kepedulian pemerintah terhadap korban Gempa Bumi Pidie Jaya dan Kabupaten Bireuen itu masih berlaku nantinya, kemungkinan besar yang akan mendapat bantuan adalah korban yang tertera dalam daftar SKPK BPBD (BNPB), bukan hasil assessment Dinsos. Sehingga jika verikasi data dua SKPK ini tdak disingkronisasikan bakal mencuat konflik kesenjangan dilapangan.

DiSamalanga Kabupaten Bireuen, Sarana Ibadah Mesjid Al-Falah Desa Namploh Blang Garang merupakan salah satu bangunan yang bagian dinding retak berat dan rawan runtuh akibat gempa saat itu. Menunggu harapan akan ada kepedulian penanganan pihjak pemerintah sesuai janji Jokowi, sampai saat ini kondisinya masih bertahan demikian meskipun semakin mengundang bahaya terutama bagi jamaah shalat jum’at.

Tak Cuma Itu, Atap bagian depan bangunan Pasar Ikan Kota Samalanga yang ikut runtuh sewaktu Gempa itu terjadi pun masih terlihat mengangga tanpa adanya sumber dana dari pihak  lain mengarah untuk perbaikan kembali.  Akibatnya, para pedagang ikan dibagian depan bangunan tersebut terpaksa mengamankan diri dan berhenti aktivitas jikalau musim hujan tiba.

Tak heran juga jika ketertiban pedagang ikan di bangunan Pasar Ikan Kota Samalanga sering acak tak teratur akibat belum tertanganinya  perbaikan atap yang rutuh akibat Gempa Bumi berkekuatan 5,5 skala Richter Kamis dini hari, 16 Februari 2017 saat itu.

“Selayaknya pemerintah daerah sedikit peka dengan kondisi bangunan pemerintah yang diperuntukkan sebagai sarana transaksi kebutuhan masyarakat umum itu, tanpa harus menunggu realisasi anggaran bantuan gempa yang sudah tahun masih mengambang.

Apalagi untuk mengantisipasi Atap Bangunan Pasar Ikan Kecamatan “Kota Santri” Samalanga tersebut hanya membutuhkan dana rehab sekedar saja,”  Demikian Ketus Seorang pedagang Ikan Di pasar Kota Samalanga, dengan intonasi  sudah apatis dengan janji-janji pemerintah.

Menyangkut dengan kondisi sarana banggunan pasar ikan di Kota Kecamatan Samalanga terlihat tanpa atap bagian teras depan karena ikut runtuh saat gempa bumi tahun lalu dan sangat dikeluhkan pedagang ikan setempat, wartawan media ini yang mencoba mendalami tingkat kebijakan kepada Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Bireuen, Darwansyah SE melalui sambungan seluler nomor posel pribadinya, Kamis Kamis 6 Juli 2017, tersambung namun tidak digubris.

Keadaan “Tak Tak Segampang Yang Diharap” untuk terlayani atau sekedar mendalami informasi yang  dibutuhkan sesuai harapan, via hubungan nomor Ponsel yang demikan itu memang sudah menjadi gambaran khas sang pejabat setingkat Eselon II atau kepala sebuah SKPK khususnya di kalangan pejabat Pemerintahan Kabupaten Bireuen, atau barangkali termasuk pejabat tingkat II lain se Aceh dan Indonesia umumnya. (Roesmady)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *