BIREUEN | BN – Bangunan dan sarana lengkap pabrik padi modern bantuan Kementrian Pertanian (Kementan) RI menggunakan APBN 2013 terhadap Koptan Geureudong Jaya, Desa Cot Geurendong Kecamatan Jeumpa Kabupaten Bireuen, Aceh hingga Sabtu 7 April 2018 tidak difungsikan sama sekali oleh penerima mamfaat dan terkesan terlantar.
Padahal, pabrik yang pernah dipersoalkan masyarakat Bireuen terkait lokasi bangun yang diketahui milik keluarga Isteri mantan Bupati Ruslan M Daud tersebut memiliki mesin penggiling padi terkini dilengkapi alat pengering padi (tipe vertical dryer) dengan nama lainnya berupa Rice Milling Unit (RMU).
Selain bantuan pendirian bangunan permanen tempat tumpuan mesin penggiling, Pemerintah pusat yang saat itu secara seremoni evoria diserahkan oleh pejabat kementrian pertanian (kementan) juga menyuguhkan bantuan sarana pertanian lainnya kepada Koperasi Tani Desa asal Isteri mantan bupati Bireuen yakni combine harvester (alat pemotong padi), plus kendaraan pengangkut hasil panen merk Viar.
Gencarnya kritikan lokasi bangun dan Koptan yang mendapat bantuan malah sempat dijadikan item utama dalam beberapa kali aksi unjuk rasa gabungan lembaga anti korupsi GASAK, mahasiswa bersama masyarakat peduli kemajuan Bireuen masa kepemimpinan Bupati Ruslan M Daud priode lalu. Karna pengaruh besar Koptan penerima bantuan adalah Desa asal keluarga penguasa kabupaten sehingga Kades setempat pun memberi keterangan sebagaimana yang telah disetting oknum tertentu terkait pabrik penggiling padi bantuan kementrian Pertanian didesa Cot Geureundong.
Sebagaimana jawaban yang pernah diberikan kepada sejumlah wartawan perihal Bangunan mesin dan sarana lainnya untuk pengoperasional Pabrik penggiling padi modern yang diterima Koptan Geurendong Jaya menggunakan lokasi lahan pribadi milik keluarga isteri bupati. ketika mempopertanyakan
Pabrik padi bantuan untuk Kelompok Tani Geureundong Jaya itu dibangun di atas lahan milik keluarga Bupati Bireuen Ruslan M Daud di Gompong Cot Geureundong, Kecamatan Jeumpa. “Penggunaan lahan itu hanya berbekal perjanjian hibah antara pemilik lahan dengan Kelompok Tani Geurendong Jaya,” demikian kilah Saiful Fuddin, Geusyik Cot Geureundong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen saat itu, yang sesungguhnya sempat dicurigai kejujuran jawaban itu oleh sejumlah wartawan peliput.
Begitupun, jika diamati suasana meriah hari peresmiannya oleh pejabat pusat kementrian pertanian bersama sejumlah pejabat instansi terkait Propinsi, Bupati dan Wakil Bupati Bireuen serta manyoritas kepala Pemkab Bireuen selaku tuan rumah, akan terkesan seakan-akan pabrik penggiling padi didukung sarana penunjang lengkap bantuan kementrian pertanian tersebut akan segera beroperasi secara maksimal tanpa henti terutama demi mensejahterakan kaum tani setempat dan petani dari desa seputaran desa Cot Geureundong.
Nyatanya, sudah empat tahun keberadaannya sarana bantuan Kementrian Pertanian tersebut tidak pernah dioperasikan dan malah bangunan permanen kira-kira 20 meter x 30 meter, sebagai tempat tumpuan mesin penggiling modern kini tanpak sudah terlantar total dan sia-sia.
“Sejak didirakan tahun 2014 lalu rasanya belum beroperasi, bahkan mesin pemotong padi sekarang juga entah sudah dikemanakan oleh pihak pengelola yang tak lain adalah abang ipar dari Nyonya Faridah,” tandas seorang warga awam Desa Cot Geurendong kepada Bongkar News ketika ingin megetahui keadaan terkini pabrik bantuan untuk Koptan Geurendong Jaya, didekat bangunan pabrik bantuan tersebut, Sabtu 7 April 2018.
Melihat kenyataan dari kondisi bangunan dan sarana pendukung bantuan Kementrian Pertanian untuk Koptan Geurendong Jaya Desa Cot Geureundong Kecamatan Jeumpa, rasanya tidak meleset tentang apa yang dipersoalkan masyarakat bersama mahasiswa pada awal pendirian pabrik bantuan tersebut lewat aksi beberapa kali unjuk rasa di kantor bupati dan halaman kantor DPRK Bireuen.
Namun demikian senyaring apapun suara dari yel-yel teriakan peserta pengunjuk rasa kala itu, tidak ada pengaruh dan “nihil” untuk mendapat tanggapan. Sampai-sampai seorang tokoh masyarakat kabupaten menangapi aksi kritikan masyarakat dalam demo saat itu dengan ujaran sinis “Ini Bireuen Bung”.
Padahal, informasi terkini yang dihimpun Bongkar News dari sejumlah kalangan yang mengetahui hal-ihwal mulai dari pengadaan bangunan hingga disertai beragam sarana mesin pendukung operasionalnya menyatakan, sesungguhnya Bantuan dari Kementrian Pertanian dengan nilai persiapan bangunan milyaran rupiah bersumber APBN TA 2013 itu sudah terhendus persoalan antara rekanan pemenang tender dengan oknum pejabat pihak dinas pertanian Bireuen sejak dari awal dimulainya pendirian bangunan pabrik.
Meskipun demikian faktanya, jeritan kritikan kebijakan masyarakat terutama dari mahasiswa, lembaga anti korupsi serta komunitas kaum tani seputaran Kota Kabupaten Bireuen hingga sudah terbukti sia-sia alias melenceng jauh dari sasaran yang diarahkan oleh instansi pemerintah sumber bantuan pabrik penggiling padi dengan sarana modern tersebut, tidak menarik perhatian mereka yang bernaung dibawah lembaga penegak hukum. “Kepekaan yang seperti inilah contohnya sehingga membuat masyarakat secara umum apatis terhadap pemberlakuan aturan hukum pemerintah RI,” tandas seorang alumnus jurusan Hukum Unsyiah asal kecamatan pesisir menanggapi aksi protes masyarakat di depan gedung Wakil Rakyat Bireuen saat lalu.
Informasi terkini dari warga Cot Geurendong yang minta identitasnya dirahasiakan saat ditanyai wartawan menyebutkan, pembangunan kilang padi di Desa Cot Geuruendong, telah rampung di kerjakan pada tahun 2014, namun anehnya kilang padi moderen itu sampai saat ini belum kunjung difungsikan, dan malah warga sudah apatis mempersoalkan, meskipun awalnya digembar-gembor oleh pengelola pabrik bantuan tersebut bukan milik pribadi seseorang tapi merupakan milik semua masyarakat setempat.
“Milyaran rupiah uang negara terkuras untuk membangun dan penyediaan semua fasilitas kilang padi tersebut terkesan sia-sia atau mubazir total.Bahkan bangunan yang telah berdiri kokoh itu terancam menjadi gedung hantu”, kata sumber itu.
“Sangat kuat dugaan ada indikasi permainan tertentu dalam pembangunan dan penyediaan fasitas serta penempatan kilang padi tersebut, apalagi sudah hampir empat tahun selesai di kerjakan, namun sampai saat ini belum di fungsikan, sudah sangat pantas saya salah satu masyarakat Kabupaten Bireun untuk mempertanyakan hal itu kepada pemerintah,” kata dia.
Sementara itu, Keushik Gampong Cot Geureundong Saiful Fuddin, saat diwawancarai wartawan menyangkut tingkat manfaat yang dirasakan kaum tani dengan keberadaan sarana penunjang kemakmuran bagi para petani sekitar padfa bulan maret lalu sejak pendirian tahun 2014 lalu, memang pernah difungsikan pengelolanya selama tidak lebih dua bulan lamanya, setelah itu tak berkutik lagi dan off sampai sekarang ini.
“Setelah terah terima dari pemerintah kepada ketua kelompok tani Geureundong Jaya pada tahun 2014, hanya dua bulan yang sempat terlihat difungsikan, selanjutnya dibiarkan dan terlantar total sebagaimana yang terlihat kasat mata,”begitulah pengakuan resmi sang Kades Cot Gereundong, seraya menambahkan kalau secera pribadi dirinya tidak pernah tau menyangkut item komponen dan kelengkapan fasilitas yang masih utuh sesuai dengan apa-apa yang pernah diterima oelh pengurus kelompok tani Geurendong Jaya desa Cot geurendong, Jeumpa Kabupaten Bireuen. (Roesmady)





