Sitename

Description your site...

Orang Yang Rampas Motor Dedy Dibengkel Service Bireuen Dept Colector “Adira” Dari Langsa

Orang Yang Rampas Motor Dedy Dibengkel Service Bireuen Dept Colector “Adira” Dari Langsa

BIREUEN | BN – Sikap dan tindakan  premanisme yang diperagakan pekerja  Dept Colector “Adira Finance” dalam hal  penarikan sepedamotor milik Dedy yang menunggak cicilan kredit, baru-baru ini di Kabupaten Bireuen ternyata dilakukan oleh para collector “Adira Finance” Cabang Langsa Aceh Timur.

“Tunggakan melebihi tujuh bulan sudah ditangani pihak Adira Area Medan melalui Cabang Langsa dan Banda Aceh. Dan Uuntuk penunggak wilayah Bireuen memang orang-orang Langsa yang turun tangan,” demikian pengakuan Staf Colector Adira Finance Bireuen Awaluddin kepada BongkarNews dikantornya depan SMPN 1 Bireuen Rabu 29 Maret 2017.

Ketika wartawan menyuguhkan pertanyaan mengenaiapakah  tatacara yang mereka anut itu sudah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, Awaluddin menjawab hal tersebut tidak mampu untuk diuraikan lebih detail mengingat pimpinan utama mereka sedang tidak masuk kantor.

Sementara sepeda motor milik pelanggan Dedy yang disita mereka dan terlihat diantara sepeda motor sitaan ;lainnya didalam kantor Adira Bireuen,  dijelaskan Awaluddin, mengingat barang kreditan tersebut belum lunas dan masih menjadi bagian aset Adira, maka kantor mereka dijadikan store penyimpanan sementara menunggu proses lebih lanjut dari pemilik.

Walau pekerja-pekerja Adira Finance memiliki AD/ART tersendiri dalam menundukkan nasabah yang menunggak cicilan dan tidak sesuai dengan perjamjian dasar, namun terkait sistem penarikan barang kredit juga diatur dalam aturan khusus yang tidak mengabaikan lembaga hukum yang berlaku.

Meskipun oleh pihak collector seperti Adira Finance dan semacamnya sering bertindak masa bodoh dengan aturan yang ada. Kejadian demikian sering dipertontonkan dep collector terutama dikota-kota besar.

“Harus diakui, Di Medan cara mereka merebut kembali barang milik boss usaha leasing mereka yang menunggak kredit lebih beringas lagi, namun rasanya perlakuan demikian tidaklah sepadan dengan keadaan daerah dan masyarakat Aceh umumnya,” tanggap Khairol seorang  pemuda Kecamatan Kuala Bireuen.

Tindakan “Semau Gue” yang mereka peragakan dikatagorikan sistem  pengambilan  paksa mengingat collector Adira melakukan penyitaan terhadap motor jenis Honda Spacy metic nopol BL 4204 DAC tersebut disebuah bengkel service Rizki Motor lintasan jalan Negara pusat  Kota Kabupaten Bireuen.

Sebagaimana yang diperagakan oleh dept collector Adira Finance cabang Kabupaten Bireuen Selasa 21 Maret 2017 yang akhirnya berujung menjadi kasus pidana di Polres Bireuen. Adalah Deddi merupakan pemilik Motor yang ditarik paksa oleh preman-preman Adira disebuah bengkel telah melaporkan kasus penarikan paksa tersebut ke Polres Bireuen.

Mengingat cara yang dimainkan tim collector Adira Finace sungguh sudah bersikap menzalimi  dan mempengaruhi nama baiknya Kreditur Dedy akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polres Bireuen dengan  Nomor  LP / 54 / III / 2017 / SPKT  tentang tindak pidana perampasan dan  Pencurian Sabtu 25 Maret 2017.

“Saya tidak bisa terima tindakan ala premanisme mereka,karena tidak seharusnya mereka main rampas demikian. Apalagi terkait kredit motor itu sudah saya lunasi selama 30 bulan dan tersisa kredit hanya  6 bulan lagi”, ujar Deddi kepada beberapa media di Caffe Indaco Lama Minggu 26 Maret 2017 dengan nada kesal..

KarenaKegiatan menyita paksa barang oleh Kreditur dan dept collector adalah perbuatanmelawan hukum mka dapat berindikasi tindakan tindak pidana pencurian (pasal362 KHUP) –Mengambil barang yang sebagian atau seluruhnya miik orang lain secara melawan hukum. Sehingga terhadap pemilik sepeda motor yang dirampasberhak melaporkan hal ini kepada penegakhukum.

Seorang pembeli sepeda motor secara kredit adalah debitur yang melakukan perjanjian jual beli dengan delernya secara kreditur. Jika Kreditur tidak melakukan kewajibannya seperti perjanjian (Wanprestasi) maka syarat perjanjian dianggap batal.

Pembatalan perjanjian itu dikatagorikan sebagai tindakan yang sudah tidak sesuai dengan perjanjian awal, namun tidak serta merta pula membolehkan kreditur untukmengambil kembali barang kereditannya terhadap debitur.

Status pembatalan perjanjian tersebut harus dinyatakan melalui putusan Pengadilan, bukan seenaknya melakukan penyitaan melalui orang-orang arogan bertampang beringas,sebagaimana yang dimainkan oleh pengusaha – pengusaha leasing selama ini.

Ironisnya, terhadap cara penarikan yang menimpa Dedy diakui Kepala Staf  Colector Adira Finance  Bireuen adalah orang-orang Adira Cabang Langsa yang menjalankan aksi dibawah perintah pimpinan Adira Finance induk Medan.

Hingga Rabu 29 Maret 2017, belum ada informasi terkini dari bagian Reskrim Polres Bireuen terkait perkembangan pengusutan laporan korban Dedy Sabtu 25 Maret 2017 lalu. Namun menurtut informasi yang diperoleh dari personil kepolisian setempat kasus tersebut bakal ditintaklanjuti demi pembelajaran kepada orang-orang kaya yang keenakan menggunakan jasa preman (bodyguard) yang berlagak arogansi dalam mengamankan harta kekayaan pribadinya. (Roesmady)

banner 468x60