BIREUEN | BONGKARNEWS — Di tengah riuhnya dinamika pembangunan daerah dan tajamnya kritik publik, Bupati Bireuen, H Mukhlis, ST. Justru memperlihatkan sisi kemanusiaan yang jarang tersorot. Hal itu terungkap dalam pernyataan yang diungkap dalam acara berbuka piasa bersama di Pendopo Bupati Bireuen bersama, Rabu (18/3)
Pernyataannya yang sempat dianggap “kurang bersemangat” akibat kritik media, kini ia luruskan sebagai bentuk refleksi diri seorang pemimpin, bukan sebagai ungkapan kekecewaan terhadap pers.
Bagi Mukhlis, jabatan yang ia emban bukan sekadar atribut kekuasaan atau posisi administratif. Ia memandang amanah tersebut sebagai tanggung jawab moral yang berat, bahkan ia rasakan hingga ke dalam doa dan sujudnya. Dalam pandangannya, seorang pemimpin harus mampu menerima kritik sebagai bagian dari proses memperbaiki diri dan pelayanan kepada masyarakat.
Ia menegaskan bahwa rasa “lelah” yang pernah ia ungkapkan bukanlah kemarahan terhadap media. Sebaliknya, hal itu merupakan introspeksi mendalam sebagai seorang pemimpin yang menganggap dirinya layaknya “ayah” bagi seluruh masyarakat Bireuen.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bireuen juga tengah menghadapi tantangan besar dalam menyalurkan bantuan daging meugang menjelang Hari Raya Idulfitri kepada masyarakat, khususnya korban bencana. Bantuan tersebut berasal dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dengan total dana yang telah ditransfer ke daerah mencapai Rp2.250.000.000.
Waktu yang terbatas membuat Pemkab Bireuen harus bergerak cepat untuk memastikan bantuan dapat tersalurkan tepat waktu. Salah satu kendala yang dihadapi adalah ketersediaan ternak sapi atau lembu yang jumlahnya tidak mencukupi jika hanya mengandalkan pasokan dari daerah setempat.
“Jumlah lembu yang dibutuhkan mencapai lebih dari 90 ekor. Kalau kita cari di Bireuen, mungkin paling banyak hanya bisa dapat sekitar 20 ekor, sementara kebutuhan mencapai lebih dari 90 ekor,” ujar Mukhlis saat bersilaturahmi dengan wartawan yang dalam kesempatan tersebut didampingi Wabub Bireuen Ir Razuardi dan Sekda Bireuen, Hanafiah.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi karena jadwal pasar hewan di wilayah Bireuen dan sekitarnya telah terlewati, sehingga pemerintah daerah harus mencari alternatif pasokan ternak dari luar daerah agar program bantuan tetap dapat berjalan sesuai rencana.
Situasi ini menggambarkan bagaimana pemerintah daerah tengah berpacu dengan waktu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang hari besar keagamaan. Di tengah kritik dan berbagai tantangan yang ada, langkah cepat pemerintah daerah menjadi upaya nyata agar bantuan yang diharapkan masyarakat dapat segera terealisasi.
Bagi sebagian pihak, kritik mungkin terasa tajam. Namun bagi seorang pemimpin, kritik juga bisa menjadi pengingat untuk terus berbenah. Di tengah dinamika tersebut, sikap reflektif yang ditunjukkan Bupati Mukhlis menjadi pesan bahwa kepemimpinan tidak hanya soal kebijakan, tetapi juga ketulusan dalam melayani masyarakat.(Dian Fikri/Maimun Mirdaz).





