Sebelum Bertitel “Ceurape’, H Saifannur Sempat Berstatus “Tikouh Tei’ng” Selama 14 Tahun

Bupati Bireuen Priode 2017 – 2022, H Saifannur S.Sos.

BIREUEN | BN – Seakan kurang elok jika BongkarNews tidak ikut berbaur mencoba merangkai kata memberi pandangan tentang hal apa yang sedang dinilai “viral dan heboh ” dikupas di dumay serta menjadi hangat diperbincangkan secara politis dalam kalangan public Bireuen utamanya.

Hingga Jumat 25 Agustus 2017 Misalnya, Judul Yang masih Bertahan Viral dialam maya khususnya, adalah menyangkut ucapan Bupati Bireuen H Saifannur dalam bagian kalimat kata sambutannya pada acara dengan para kades seluruh Bireuen di aula Setdakab Bireuen, Kamis 24 Agustus 2017.

Acara yang dihadiri Kepala Kejari Bireuen saat itu mengupas tentang lampu merah serta imbas yang akan menimpa  perangkat desa khususnya kades yang coba-coba bermain nakal dalam menggunakan anggaran pembangunan desa. Saifannur sengaja megucap kata-kata “alias” dengan tujuan diyakini sebagai seloroh demi mencair serta menghidupkan suasana forum sebelum fase inti mulai dibahas.

Dalam acara Sosialisasi Pengawasan Dana Desa Bersama TP4D di Aula Setdakab Lama , Kamis 24 Agustus 2017 dari pandangan hukum Sebutan kata perumpamaan untuk dirinya sebagai Ceurape (Cerpelai), sementara bagi Tgk Geuchik diumpamakan seibarat Tikoh Teeim (Tikus teeing) telah diartikan bias oleh sejumlah kalangan pengamat tata bahasa.

Serangan balik, himbauan harap mewanti-wanti diri bagi sang Bupati Bireuen pun marak dari beragam komunitas. Protes turut dikoarkan oleh Ketua Umum Forum Komunikasi Mahasiswa Bireuen (FKMB) Muhammad Risky.

Tak tanggung-tanggung, Muhammad Risky denga gamblangnya mengharapkan kepada H Saifannur  untuk  menjaga etika berbicara dalam berpidato pada acara resmi, karana sekala jabatan Bupati sudah menjadi figur publik, maka dalam peletakan kata-kata berkomunikasilah dengan baik tanpa melukai perasaan masyarakat banyak.

Evaluasi belum satu bulan lamanya masa kepemimpinan H Saifanur – Muzakkar menakhodai pemerintahan Bireuen setidaknya sudah tiga kali uraian kata yang keluar dari mulut H Saifan dinilai sejumlah kalangan masyarakat setempat tidak layak, tidak beretika dan lain-lainnya dengan sergahan kata kritik, sebagaimana yang gencar disuarakan lewat   medsos FB oleh sejumlah nitizen.

Padahal kalaulah sejenak saja kita setuju, perkembangan ini berlaku ketika titel “birokrat” baru dua minggu disandang oleh Saifannur, setelah dilantik 10 Agustus 2017. Pun semua itu diakui atau tidak seperti ada gelagat sengaja dipelintir bias hingga ketangga viral. Semuanya masih gampang diangkat kepermukaan  karena masih tersisa senjata energy menjatuhkan (meembuly) kandidat lawan dalam gudang “mesiu” Pilkada lalu yang dianggap mubazir kalau tidak digunakan saat mengetahui ada kata dari “sang jawara” tergelincir karena kekhilafannya.

Seyogianya control public yang pantas kita pasang spionase seiring dengan cara H Saifan menjalankan tanggungjawabnya adalah tindakan fakta jika ada yang melenceng berbanding dengan janjinya sewaktu kampanye tawar program. Bukan bagian lafaz kata alias sebutan kalimat kiasan yang sesungguhnya diucapkan untuk meghidupkan suasana suatu forum.

Terkait perumpamaan nama binatang “Ceurape” (Cerpelai) untuk pribadinya dan “Tikouh Teing” (Curut/celurut) diidentikkan bagi Geuchik dalam acara resmi pemerintahan beberapa hari lalu, kalaulah kita mau berpikiran positif sepertinya sedikitpun tidak ada niat beliau merendahkan para kepala desa. Hal itu dikuatkan dengan jenis binatang yang diibaratkan untuk pribadi dirinya tergolong keturunan spesies yang tidak lebih mulia daripada Tikoh Teing (Teeim).

Lain halnya jika Bupati Bireuen Priode 2017 – 2022 Yang Juga Pernah Berbakti Sebagai Kades Paya Meuneng, Kecamatan peusangan Bireuen selama 14 tahun lamanya (1998 – 2012) itu justru mengibaratkan sosok pribadi dirinya bagaikan seekor Kuda Putih yang ditunggangi kesatria gagah berbaju besi misalnya.

Cerpelai (Ceurape) merupakan hewan predator aktif, memiliki reputasi sebagai hewan yang pintar, cepat dan penuh tipu daya. Cerpelai juga memangsa mamalia kecil, dan sudah lama dianggap sebagai hama dikarenakan beberapa spesies sering memangsa ayam dan menyerang lubang kelinci di tanah peternakan.

Sementara binatang yang bernama tikoh Teeim dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama Curut/ Celurut. Binatang ukuran kecil bermoncong panjang ini juga dinamakan dengan tikus kasturi, kadang juga dinamakann dengan cecurut, cencurut dan juga munggis.

Celurut ini tersebar seluruh dunia kecuali papua, Australia,selandia baru dan Antartika. Pemakan serangga ini sebenarnya mereka terdapat dalam ordo yang berbeda, namun di katakan tikus karena mereka sama dengan spesies tikus, bulunya ukuran tubuhnya, dan juga dengan warna bulunya dan lainnya. Pokoknya selain merupakan salah satu tikus pemakan serangga terkait dengan vektor penyakit juga sema dengan tikus lainnya.

Memang Tikus juga merupakan salah satu binatang perusak dan sangat menyebalkan, tikus juga sangat mengganggu, Tikus juga membawa penyakit dan juga sifat pengeratnya. Tikus juga terbilang cerdas dalam beraktifitas, tikus juga disimbolkan sebagai koruptor. Mereka sering merusak tanaman petani dan juga kalau di rumah mereka sering mencuri barang-barang kemudian di kumpulkan di suatu tempat.

Tikus merupakan mamalia yang masuk dalam suku Muridae, Spesies yang sering dikenal adalah mencit (Musssp), Tikus got (Rattus Norvegicus), Tikus Rumah (Rattus Rattus), tikus sawah (Rattus argentiverter), wirok (bandicota sp), dan curut/celurut (shrew) yang oleh kita orang Aceh umumnya kita sebut dengan nama “Tikouh Teeim”.

Meskipunn sama-sama bermarga Tikus namun tipe tikus ynag sering diidealkan dengan kebiasaan buruk adalah dengan yang dikenal Mencit (Musssp). Sementara terhadap curut/celurut (Shrew) alias Tikouh Teeim justru dianggap sosok yang paling pasif (Non Agresif) berbanding saudara-saudaranya.

Makanya, jikalau dibandingkan pada bahagian perangai jahat (jelek) dengan prilaku manis mengagumkan dalam keseharian antara Ceurape Dengan Tikoh Teing, sepertinya tidak ada perangai busuk atau kebiasaan mulia yang mencolok diantara kedua binatang tersebut.

Lalu, Untuk apa kita persembahkan macam-macam arti dengan sepenggal ucapan kata Tikouh Teeim tersebut, padahal sesungguhnya perangai yang dianut oleh sang Ceurape pun tidak sepatuh binatang pengerat yang dialiaskan untuk para Kepala Desa dalam forum yang dihadiri Kepala Kejari Bireuen saat itu.

Walau Demikian,  proses pembuktian janji Saifannur dalam memajukan Bireuen dengan imbuhan motto Khasnya  “CEPAT, TEPAT DAN TUNTAs” tetap harus dikawal publik Bireuen, namun tentu saja dengan sistem  penyampaian amanah yang masuk akal serta penuh etika. (Roesmady)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *