Peternak Tradisional Dilatih Membuat Mesin Tetas

Bireuen|BN-Setidaknya  20  warga masyarakat yang juga peternak tradisionil di Desa Geurugok, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen mendapat pelatihan tentang  cara pembuatan mesin tetas sederhana disertai cara penggunaannya yang digagas  Dosen Umuslim Peusangan, Bireuen..

Menurut Kabag Humas Umuslim,  Zulkifli, M.Kom kepada media ini, Kamis (7/9)mengatakan,  bahwa  kegiatan dimaksud   di mulai sejak, Juli 2017 dan  sekarang ini sudah pada tahap penetasan, pelatihan yang dilaksanakan mulai dari pembuatan tempat pengentasan disertai membimbing para peternak dalam mengoperasikan mesin tersebut, sampai pada tahap penetasan  telor .

Bacaan Lainnya

Menurutnya, program tersebut  dilaksanakan dalam rangka pengabdian masyarakat yang dilakukan dosen Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, yang  merupakan salah satu program pengabdian masyarakat bagi dosen Umuslim  melalui program pengabdian  Ibm yang didanai Direktorat Riset dan pengabdian Masyarakat (DRPM) Dikti Jakarta.

Pelatihan pembuatan tempat tetas dilakukan selama dua hari yang langsung dibimbing dua personil masing-maisng, Ariani Kasmiran,SPt, MP dan Drh.Yusrizal Akmal,MSi yang juga  Dosen tetap Universitas Almuslim Bireuen serta dibantu Alumni Fakultas Pertanian yang sukses di bidang dimaksud. Menurut Ariani Kasmiran ,SPt, MP,  tujuan program ini  untuk memberikan  pengetahuan bagi peternak tradisionil (rumah tangga) tentang penetasan buatan baik dalam hal pembuatan mesin yang sederhana maupun dalam menggunakan mesin tetas.

Ia berharap program tersebut hendaknya dapat meningkatkan daya tetas telur unggas lokal seperti telur itik serta telur ayam sebagai plasma nutfah Indonesia yang perlu dibudidayakan. “Melalui kegiatan ini diharapkan peternak mampu mengelola mesin tetas, sehingga  menjadi sentra pembibitan unggas lokal khususnya di Kabupaten Bireuen,” jelas Dosen Umuslim ini

Pihknya menambahkan, hasil evaluasi pihaknya selama ini., menjadi salah satu faktor  yang menyebabkan rendahnya populasi ternak akibat kurangnya pengadaan bibit ternak khususnya unggas  di Kabupaten Bireuen..”Selama ini banyak bibit didatangkan dari Medan,  maka, sudah barang tentu harganya lebih mahal karena adanya biaya transportasi. Harapannya, hasil pelatihan ini akan membuka peluang bagi masyarakat untuk melakukan  penetasan untuk wilayah Bireuen, mengingat  kondisi  sangat potensial, bagi peningkatan ekonomi keluarga,” pungkas Anani Kusmiran. (Maimun Mirdaz).

Pos terkait