Persoalan Kopi dan Petani Jaminan Terhadap Keberlangsungan Hidup

Medan I bongkarnews.com- Di tengah terpaan hujan deras tidak menjadi halangan untuk bertemu untuk diskusi dan berbincang santai tentang milenialis dan perubahan sosial.

Diskusi yang merupakan kegiatan rutin Forum Diskusi Rabuan Antropologi dilaksanakan setiap hari Rabu.

Kali ini diskusi menghadirkan sosok Begawan Antropologi Prof. Usman Pelly, Ph.D dengan tema diskusi : Milenial dan Perubahan Sosial bertempat di Markas MIKO (Minum Kopi) , Eka Rasmi, Medan Johor, Rabu (9/10).

Hadir dalam diskusi, dan beberapa kerabat antropolog muda dan para pemuda tani yang tergabung di dalam Sumatra Youth Farmer Movement (SYFM ).Bertindak sebagai moderator/narator , Avena Matondang

Dalam bincang sore bersama Prof. Usman Pelly, Ph.D menjadi guyub dengan bahasan kopi yang menjelma menjadi bahasan penuh nutrisi pengetahuan.

” Apalagi dengan amunisi pemikiran “food sovereignty” dari kerabat SYFM tentang cerita kopi, petani kopi juga sajian kopi “situjuah gadang” trademark warung Miko – Minum Kopi”, ujar salah seorang peserta.
Seperti diketahui SYFM yang bergiat pada pemberdayaan petani dengan perspektif koperasi oleh generasi milenial menjadi kekuatan untuk memotong jalur distribusi dan memberi kesejahteraan bagi petani.

Untuk hal di atas Prof. Usman Pelly, Ph.D memberikan apresiasi dimana disebutkan sebagai suatu gerakan penguasaan lahan seutuhnya.

” Sebagai modal atas ketahanan petani terhadap serbuan kapitalisasi global”, ujar Usman Pelly.

Acara yang berjalan secara santai membincangkan pertautan antara lahan, petani dan hasil produksi dicicipi dengan sajian kopi tanpa gula sebagai strategi konsumsi melawan kapitalisasi produk kopi manis yang memiliki imbas pada kesehatan sambil diselingi sajian ubi dan kentang sebagai kudapan pada perbincangan sore itu.

Apalagi Miko – Minum Kopi yang tetap eksis dengan diseminasi kopi yang massif, bertahan dengan pasokan kopi petani lokal dan mendorong petani menjadi tuan rumah bagi hasil produksinya.

Perbincangan mengalir hingga pada konsep koperasi sebagai perlawanan terhadap tengkulak dalam konstruksi kapitalisasi nilai yang juga berhadapan dengan realita (kembali) menjadi petani oleh masyarakat urban perkotaan dan masyarakat agraris petani yang bertempur dengan nilai kapital sebagaimana rezim nilai menguasai kehidupan masa kini seperti pendapat Graeber (2013).

Dimana sejatinya persoalan kopi dan petani adalah jaminan terhadap keberlangsungan hidup, sebagai suatu narasi panjang mengenai perkebunan, kolonialism hingga pada pembentukan kultural terhadap kopi; dari mesiu, biji kopi, daun kopi dan atribusi lainnya.

Menyikapi persoalan ini para milenialis cerdik dalam melihat celah kesesuaian antara trend konsumsi kopi, social media campaign dan diskusi sebagai suatu ramuan masa kini yang terbukti ampuh menerabas tradisi akademik dan menara gading dengan diskusi yang cendrung forrmal dan monoton,

Perbincangan antropologi sore itu bukanlah diskusi kelas formal layaknya menara gading melainkan cair dan menarik milenial untuk turut urun rembug terhadap diskursus masa kini dengan mendekatkannya pada realita.

” Ilmu antropologi harus membedah secara ekletik persoalan milenial dengan melihat milenial pada dimensi semestinya dengan tidak mencerabut dan memindahkannya pada ranah akademis kaku”, ujar peserta lainnya.

Harus diakui, lanjutnya diskusi antropologi yang guyub seperti ini adalah pelepas dahaga pengetahuan ditengah gempuran informasi dan sikap individualis yang terus direpetisi.(ndo)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *