Disuntik 95 Milyar RSUD Bintuni Masih Kekurangan Anggaran

BINTUNI | Bongkarnews.com – Kepala Dinas kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat, Ekber Fakdawer SH MH saat diwawancarai awak media usai kegiatan Konsultasi Publik Terkait Capaian dan Pengembanagn RSUD Teluk Bintuni di aula hotel Stenkool Bintuni pekan lalu.

Dikatannya bahwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Teluk Bintuni  sampai saat ini birokrasinya tidak terpisah, tapi saat ini pihak Rumah Sakit sudah dapat mengatur keuangannya sendiri dengan kata lain mereka boleh mengatur anggarannya sendiri tapi tetap dalam pengawasan Ka-Dinkes.

“Rumah sakit itu tidak terpisah, hanya ada penambahan satu bidang jadi seolah-olah kalau dipikir seperti ada penambahan satu Satuan Kerja perangkat Daerah ( SKPD )  sendiri, sebetulnya tidak , kita  terus kordinasi“ Kata Fakdawer.

Dijelaskannya, memang terkait penganggaran, masalah teknis semua kita kasih poin mereka untuk bertanggung jawab, tapi masih tetap dibawa pengawasan kami, ujar Fakdawer.

“contoh konkrit seperti rujukan pasien yang membutuhkan pembiayaan, perjalanannya saja dari Pemerintah Daerah,  harus kita  chek rekomendasi baru bisa dibiayai selain dari pembiayaan-pembiayaan sudah yang dibiayai oleh BPJS  itu sudah terformat berkasnya lengkap, jadi  kerja atas aturan yang ada dari Dinas , jadi biaya tanpa sepengetahuan saya tidak boleh, saya selaku Kepala Dinas harus mengetahuinya “ tegasnya.

Target kami untuk Rumah Sakit dan harapan  kami semoga cepat recorder terkumpulkan guna memberikan masukan sebagai  pengamatan,  menyangkut pencapaian kita saat ini di rumah sakit.

“Kita sudah Tipe C kira-kira apa yang sudah dilakukan, ya tentu mungkin masukan dari publik untuk recorder yang ada semua jadi  satu bahan kajian untuk kami membenahi diri apa yang harus dilakukan disaat sekarang, bahkan perencanaan untuk kedepan pengembangan seperti apa capaian-capaian yang  kita harus  maksimalkan jadi publik harus  menyampaikan “ pintanya.
Bahwa ada kriteria tertentu untuk memenuhi Tipe C ini,  ya salah satu contoh Dokter  spesialis  minimal sepuluh orang , dan saat ini kita sudah punya  sebelas Dokter spesialis dari jumlah Dokter Spesialis kita sudah memenuhi kriteria, namun saat ini kita juga masih berbenah  infrastrukturnya ,seperti  contoh sekarang kapasitas ruangan-ruangan rawat inap tidak dapat menampung banyaknya pasien rawat inap di RSUD seperti yang  dikatakan Direktur RSUD dr.Eka W.Suradji, PhD .

Peminat rumah sakit ini tinggi sekali dari daerah lain juga datang sampai di rawat inap sehingga mengakibatkan membengkaknya anggaran. Untuk fasilitas rawat inap sementara ini pihak RS melayani di daerah  Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Pegunungan Arfak, Kabupaten Fakfak, Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Manokwari, hal merupakan upaya melengkapi semuanya,  baik tenaga, fasilatas, insfratruktur.  Pihak RSUD juga berharap dukungan dari lembaga-lembaga  agar mendukung dalam pembiayaan-pembiayaan kedepan. Sebab selama ini dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)

Walaupun pemerintah telah menganggarkan dana yang bersumber dari APBD dengan menyuntik dana sebesar 95 miliar, untuk Dinas dan RSUD, namun masih saja kurang karena tingginya angka perawatan pasien.

“Dengan  anggaran 95 Miliar itu kita anggap masih kurang jadi  perlu dana-dana cadangan yang kita  butuhkan untuk pelayanan dengan melihat  fakta dan realita  di lapangan seperti yang  kita ketahui  sendiri bahwa  transportasi untuk membiayai seseorang pasien dari sini keluar antar  kampung ke kota sudah dua kali  lipat, untuk itu Dinas butuh dana cadangan semoga ada perhatian dari lembaga-lembaga lain, namun untuk itu dengan dana yang ada kami tetap bekerja sebagaimana mestinya untuk menjalankan program-program Pemerintah Daerah bahkan Pusat untuk melayani masyarakat”, ucap Fakdawer. (Haiser Situmorang)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *