Peringati Hari Air Dunia, Akhyar Jadi Nara Sumber

 

Medan ,BN– Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dalam hal ini Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II menyelenggarakan dialog publik penataan Sungai Deli, Selasa (21/3) di Taman Edukasi Avros Polonia Medan. Kegiatan dialog publik ini sebagai bagian dari rangkaian kegiatan memperingati Hari Air Dunia XXV Tahun 2017 di Kota Medan.

Wakil Walikota Medan, Ir. Akhyar Nasution dalam kesempatan tersebut hadir sebagai salah satu narasumber utama bersama Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera II, Baru Panjaitan, ST, MT, Pengamat Lingkungan Kota Medan, Ir. Jaya Arjuna, M.Sc, serta beberapa narasumber lainnya.

Wakil Walikota mengungkapkan peringatan Hari Air Dunia ke XXV tahun 2017 merupakan momen yang tepat untuk menata kembali lingkungan perairan kita, selama ini masih sedikit orang yang sadar dan memahami arti pentingnya untuk menjaga dan melestarikan sungai sebagai salah satu sumber air kehidupan di Kota Medan.

Untuk itu dirinya mengapresiasi diselenggarakannya dialog publik ini sebagai media untuk memberikan mengedukasi masyarakat Kota Medan.

Dijelaskan Akhyar, Pemko Medan sedang menyusun beberapa model rencana penataan kehidupan masyarakat yang ada di lingkungan aliran sungai.

“Kita sedang merancang beberapa model perencanaan pemukiman untuk masyarakat yang hidup di area aliran sungai, salah satunya “Resettlement” atau pemukiman kembali. Ini bukan menggusur, melainkan dilakukan penataan ulang pemukiman yang ada sebelumnya menjadi lebih tertata sesuai dengan kondisi ril yang diharapkan. Kita harus menata kembali lingkungan alam kita sebagai upaya untuk mengimbangkan kembali siklus alam yang sesungguhnya,” papar Akhyar.

Selain itu kita juga sudah usulkan agar disepanjang daerah aliran sungai dibuat jalan inspeksi untuk penataan daerah aliran sungainya.

Dengan demikian lanjutnya mari kita berikan pemahaman kepada masyarakat kita untuk mengerti dan memahami makna keseimbangan alam itu sendiri.

“Kita tidak akan pernah nyaman melihat kondisi lingkungan di area sungai seperti Kampung Aur terus kumuh dan tidak tertata seperti itu. Ayo kita yakinkan masyarakat untuk tetap menjaga dan melestarikan lingkungan agar keseimbangan alam tetap terjaga dan kehidupan masyarakat juga nyaman dan aman,” ajak Akhyar dihadapan para komunitas penggiat dan pecinta lingkungan, pemerhati lingkungan hidup, serta mahasiswa dari berbagai universitas yang ada di Sumatera Utara.

Kepala BWS Sumatera II, Baru Panjaitan menambahkan bahwa sesungguhnya kita harus memahami kondisi lingkungan air. “Air itu sifatnya kompleks, bisa menjadi sumber kehidupan, bisa juga menjadi sumber malapetaka jika pengelolaan tidak tepat,”katanya.

Dialog tersebut diselingi dengan sesi tanya jawab publik terkait isu-isu penataan dan pelestarian lingkungan guna mencari solusi terbaik penyelesaian penataan lingkungan sungai. Diantaranya menginginkan permasalahan seperti pemukiman kumuh, pencemaran lingkungan, hingga penanganan banjir kota bisa segera diatasi bersama. (HS)